Perjalanan Mencari Silat (Sebuah Catatan Bagian 6)

2

Waktu liburan telah tiba lagi.

Nabila Belajar Gerak Gulung Budi Daya
Nabila Belajar Gerak Gulung Budi Daya

Ara menghabiskan waktunya untuk berlatih lagi dengan eyangnya. Sang eyang mengajarkan sisa dari 10 bab pukulan. Latihan penuh di dalam airpun di ulang-ulang terus  menerus hampir setiap malam, hingga akhirnya sang eyang mengajarkan apa yang disebutnya jurus akhir, jurus yang sepenuhnya mengandalkan kehalusan.

Selama berlatih dibantu dengan media air Ara selalu berpikir, apa sebetulnya yang ada dibalik latihan ini. Sekedar latihan fisikkah atau memiliki makna magis agar dapat memiliki kekuatan “pendukung” agar jurusnya lebih bertenaga.

“Akhir dari jurus adalah ketika kamu sudah memahami dirimu sendiri, batas dirimu, dan yang paling utama adalah hati dan pikiran. Selama berlatih dengan merasakan perbaikan kekuatan fisik saja maka latihan yang kamu jalani hanya akan menjadi otot tanpa hati”, demikian yang dikatakan oleh eyangnya sambil melanjutkannya dengan berbagai kisah tentang air dan penerimaan otot.

Ara pun bingung karena latihan yang diberikan memang sangat berbeda. Kalau sebelumnya sedemikian keras dan membutuhkan pengerasan otot yang sepenuhnya sekarang justru kebalikannya. Jurus yang sebelumnya diajarkan dalam posisi yang tinggi dan panjang serubah menjadi ringan bahkan sekarang yang diajarkan adalah jurus dengan langkah yang cenderung pendek dan sangat rendah posisinya.

Ada beberapa hal dari latihan-latihan tersebut membuat Ara merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Pertanyaan pada eyangnya di jawab dengan rangkaian filosofi yang belum sepenuhnya dipahami maknanya.

Setelah berlatih beberapa lama sang eyang mengajak Ara untuk memenuhi sebuah undangan. Ara sudah dapat menduga undangan seperti apa yang akan dikunjungi.

Benar saja. Di sebuah kota, Ara bersama eyangnya mengunjungi sebuah alamat dimana disana mereka diarahkan untuk mengunjungi sebuah lokasi pinggiran kota. Lokasi yang luas terdapat sebuah lapangan yang jauh dari perumahan. Sejumlah obor dipasang sebagai penerangan. Sebuah kalangan kotak beralas tanah yang ditandai sebuah garis diyakini Ara sebagai tempat untuk melaksanakan pertarungan.

Satu per satu para undangan yang jumlahnya tak terlalu banyak tersebut menampilkan permainan jurus-jurusnya. Ada yang bermain dengan cepat dan bertenaga, ada pula yang indah bagaikan tarian.

Tak disangka tak dinyana, ternyata sang eyang kali ini menyuruh Ara untuk naik kalangan dan memainkan jurusnya. Sedikit ragu Ara naik dan memainkan jurus diatas kalangan. Waktu itu dipilihlah jurus awal untuk ditampilkan. Sebuah rangkaian jurus yang membutuhkan stamina otot yang baik dan cukup melelahkan untuk memainkannya.

Ara merasa senang dengan tepuk tangan yang diberikan dan memberikan salam penutup.

Ketika akan melangkah keluar kalangan, ada seseorang yang meloncat masuk kalangan dan memberi salam hormat pada Ara sambil berkata, “Boleh saya bersambut tangan ?”.

Ara kebingungan dan melihat eyangnya. Ternyata ada aturan di tempat itu dimana kalau kalangan sudah diinjak, tak boleh menolak “sambutan” atau akan memberi malu bagi dirinya sendiri, aliran atau yang membawanya.

Akhirnya Ara terpaksa menerima “sambutan” tersebut. Ragu karena belum pernah berhadapan dengan kondisi seperti ini membuat Ara terhantam telak dengan 1 gigi pecah dan mulut berdarah-darah.

Tapi rupaya sang eyang tidak merasa kasihan.

Ara yang langsung terkapar di tanah setelah menerima hantaman harus menghadapi hantaman keras serangan lutut yang menghantam dadanya ketika lawannya meloncat dengan menghantamkan lututnya. Seketika itu juga secara reflek Ara menggunakan salah satu ajaran gurunya yaitu  memanfaatkan rasa sakit untuk menyerang balik sekerasnya. Telak pukulannya menghantam rahang lawannya yang masih agak meluncur turun setelah menghantam dadanya.

Berdua, sama-sama tersungkur.

Sakitnya bukan main dan ternyata serangan lutut itu menyebabkan retak di rusuk Ara. Demi menyadari kemungkinan diserang kembali Ara berjuang mengatasi rasa sakitnya untuk bangun dan demi melihat lawannya yang masih terkapar sesegera mungkin Ara meloncat mengirimkan jurus 2 batu, salah satu dari teknik gunung batu, rangkaian jurus yang digunakan untuk menghantam lawan yang sudah berada di bawah. Bentuknya dengan meloncat dan menjadikan telapak tangan sebagai tumpuan titik jatuh, dilanjutkan dengan memutar badan kebelakang dan menjadikan siku sebagai tumpuan jatuh berikutnya.

Tapi rupanya merenggangkan tubuh ketika memutar badan itu menimbulkan rasa sakit luar biasa di dadanya. Akhirnya jurusnya tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna dan berakhir dengan tiduran karena tidak lagi mampu bangun.

Seri……

Tapi bagi eyangnya, Ara dinyatakan kalah. “Kalau lawanmu serius memberikan serangannya tadi, kamu sudah mati”, begitu kata eyangnya.

“Para pendekar tangguh, mempertaruhkan serangannya pada 1 jurus saja. Dari sana sudah jelas yang kalah akan terkapar dan kamu sudah terkapar. Dan kamu belum berani bertaruh pada jurus halusmu”, lanjut eyangnya.

Inilah saat-saat dimana Ara mendapatkan siksaan dalam bentuk latihan berat yang lebih dari pada sebelumnya. Dari mulai malam datang hingga menjelang waktu subuh, Ara harus menikmati air dan udara dingin untuk melatih teknik halus yang diajarkan eyangnya. Begitu banyaknya penekanan yang diberikan untuk dapat menguasainya. Sementara latihan-latihan dari bab pukulan seperti diabaikan. Sebagai gantinya sang eyang memberikan sejumlah catatan cara-cara melatih sisa bab pukulan dan memberikan sejumlah contoh dari hasil latihan tersebut.

Jurus yang dilakukan dengan langkah yang lambat dan ringan, dilakukan dengan perlahan sambil berendam dan melangkah perlahan, berlatih berteman dedaunan yang dijadikan media kontrol dan lain sebagainya sambil mendengarkan berbagai tembang yang berkisah tentang kehidupan dan berjurus.

Sementara di siang hari, Ara diperintahkan berlatih jurus langkah sambil mengelilingi rumah. Pegal dan lelah dari latihan disarakan setiap hari. Tak ada waktu istirahat.

Tak disangka, ternyata latihan yang begitu intensif diberikan hanya karena itulah masa akhir sang eyang bisa memberikan ilmunya karena waktunya di muka bumi ini telah habis dan tiba saatnya menghadap sang pencipta.

Tinggallah Ara terpaku kebingungan dengan segudang pengetahuan yang ditinggalkan sang eyang yang harus dapat di kuasainya, seorang diri.

 

Bersambung ………………..

Padepokan Gunung Manglayang, sebuah kawah candradimuka penempaan diri