Silatmu Kok Kayak Kungfu Sih

7
cimande
Bule Belajar Silat

Pernah denger komen seperti itu ? Tentang aliran silat yang dianggap mirip dengan beladiri import ?

Saya sih lumayan sering. Malah pernah ada kawan pesilat yang padepokannya banyak didatangi oleh praktisi salah satu aliran karena gerakan tangannya yang dianggap sama dengan salah satu aliran dari tanah Cina tersebut.

Pengalaman teman lain seorang pewaris permainan tongkat dari sunda juga pernah di tuduh bukan hanya sekedar mirip, tapi dikatakan meniru Arnis.

Benarkah serendah itu silat dimata sebagian orang ? Bahwa kita ini hanya bisa meniru ? Bahkan yang menuduhkan hal tersebut terkadang orang yang menyandang judul “warga negara Indonesia”. Ataukah karena para penuduh ini sendiri juga cuma mampu meniru. Kenapa jarang yang menanggapi, yang disana koq mirip silat.

Nenek moyang kita banyak yang merupakan lokal genius. Mereka menciptakan berbagai permainan yang luar biasa. Dan tidak bisa di pungkiri, secara umum, manusia itu memiliki tangan 2 dan juga 2 buah kaki. Belum ada yang memiliki 4 tangan atau 4 kaki, belum ada yang dilahirkan dengan tangan berlapis batu atau kaki yang sanggup melar melingkari gedung, sehingga bisa menciptakan teknik yang 100% unik yang jarang dimiliki manusia lain. Kemiripan disana sini adalah hal yang sangat biasa. Juga kolaborasi budaya masa lalu pun jelas akan dapat menciptakan transisi bentuk disana sini, baik dari dalam budaya kita ke luar ataupun sebaliknya. Siapa yang tau ? Karena walaupun sebagian ilmu beladiri tercantum dengan jelas siapa penemu dan penciptanya, tapi tidak semuanya mengisahkan proses penemuannya beserta unsur-unsur yang masuk kedalamnya, misalnya apakah ada beladiri lain yang pernah dipelajari sang penciptanya. Mayoritas dari kita bisa dipastikan belum ada yang berumur cukup tua untuk bisa melihat dan mengikuti proses terciptanya silat Cimande atau terciptanya kungfu didalam kuil shaolin. Sehingga kita cuma bisa berpegang pada referensi entah “katanya”, atau ada tulisannya. Tulisanpun juga sama, sepertinya tidak ada yang cukup tua untuk menyaksikan penulisan itu dibuat. Sehingga hanya soal keyakinan saja yang menyatakan hal tersebut benar atau tidak yang walaupun di dukung sejumlah fakta dan bukti sejarah, tapi tak tetap bertumpu pada keyakinan masing-masing soal kebenarannya.

Sebagian mereka yang belum memahami, kebanyakan hanya melihat beladiri asli kita dari sudut pandang “katanya”, atau hanya mencicipi permukaannya. Lagi-lagi meminjam kata-kata mas Gunggung, mirip dengan orang yang mengkoleksi buku tentang berenang, mempelajari segala aspek tentang berenang, sehingga segala teoritis diketahuinya, tapi tidak pernah mencoba berenang ataupun hanya mencoba di kolam berkedalaman 1/2 meter. Pada akhirnya apa yang ada didalam aspek berenang yang bisa menggambarkannya akan banyak yang hilang. Cobalah di kedalaman paling tidak 1 meter supaya lebih merasakan tentang apa itu berenang. Agar pengetahuan yang dimilikinya lebih pantas untuk dipertanggung jawabkan ketika menyuarakan pendapatnya. Masa baru latihan 2×2 jam udah ngaku mempelajari sebuah aliran apalagi kalau mengaku menguasai. Agak sedikit menggelikan bukan ?

Jadi kembali soal mirip-miripan, mari kita sebut Benjang atau Dogong yang “seperti” gulat. Sebuahan seni permainan rakyat untuk gembira ria. Juga memiliki sejumlah teknik tersembunyi yang digunakan untuk kebutuhan pertempuran. Sebut jugalah Paseban yang juga “agak mirip” BJJ alias Brazilian Jiujitsu. Karena gayanya yang mirip pernah loh Paseban ini ada yang menyentilnya sebagai “Betawian Juijitsu“. Dan aneka aliran lain yang kalau mau di mirip-miripkan, pergi kemanapun kita, tidak hanya ke pelosok Indonesia, tapi juga ke pelosok dunia, akan selalu menemukan yang mirip.

Fenomena yang kadang terjadi soal beladiri lokal kita ini mirip anu dan itu, terkadang menimbulkan pertanyaan bagi sebagian orang, “kemana rasa memiliki manusia yang hidup di negeri ini atas kekayaan budaya sendiri ?”. Jaman sekarang dimana internet sudah bisa di akses diatas telapak tangan ini informasi jelas makin mudah dicari. Apa susahnya tinggal bertanya, coba buka sejarahnya dan lain sebagainya. Bandingkan. Apakah benar nyolong atau memang ada percampuran teknik dan lain sebagainya. Dengan begini juga hal-hal terpendam dari dalam alirannya bisa ikut terungkap dan semakin banyak yang dapat dilihat dari dalamnya dan anda tentunya termasuk yang berjasa untuk dapat mengungkapkannya.

Menyukai sesuatu adalah pilihan. Tapi fanatisme berlebihan jelas juga tidak baik. Jadi kami yang menyukai milik bangsa ini memilihnya belajar sesuatu milik bangsa ini. Sementara yang memilih mempelajari milik bangsa lain, bukan berarti anda tidak bisa mendukung budaya negeri ini juga walau tidak mempelajarinya. Salah satunya dengan tidak mencemooh tanpa alasan yang dapat di pertanggungjawabkan.