Ketika Sejarah Aliran Di Pertanyakan

11

Sebuah aliran beladiri tentu memiliki sebuah latar belakang penciptaannya.
Nama orang, daerah dan lika liku hingga terciptanya sebuah karya keilmuan dalam bidang ilmu beladiri. Entah tercipta dari hasil perenungan, penggabungan, modifikasi dari aliran yang sudah ada ataupun sebuah wangsit.

Klaim tentang sejarah sebuah aliranpun kini makin mudah di temukan di internet. Baik yang berasal dari sumbernya langsung atau dari tutur cerita yang di wariskan turun temurun pada mereka yang mempelajarinya.

Tapi dimasa kini tak jarang klaim atas sejarah sebuah aliran menimbulkan pertanyaan. Terutama bila masyarakat umum yang kian kritis menilai ataupun dari keingin tahuan yang lebih luas misalnya bila dibandingkan dengan sejarah umum kerajaan dimasa lalu, nama-nama tokoh yang sudah terkenal atau karena klaim sejarah yang berbeda antara individu dari aliran yang sama.

Betul bahwa kita ini hanya bisa meyakini apa yang kita dengar atau baca karena rasanya belum ada yang cukup tua untuk masih hidup hingga bisa menyaksikan sendiri perkembangan sebuah aliran yang cukup tua. Sahbandar misalnya. Siapa yang pernah bertemu dengan mama Kosim dan masih hidup hingga kini ? Rasanya sih tidak ada. Cimande ? Saya rasa akan sama.

Sejarah aliran bagi seorang yang berminat menelusurinya sebagai pengetahuan tentunya akan sama dengan memperlakukan misalnya menelusuri kerajaan-kerajaan yang ada di masa lalu. Majapahit misalnya. Segala debat tentang kerajaan ini banyak terjadi. Tentang perang bubat misalnya, sebagian mengakui adanya perang tersebut sementara sebagian yang lain tidak. Dan perdebatan panjangpun terjadi dengan kubu dan datanya masing-masing yang tiap orang bebas menggalinya. Tapi sejarah sebuah aliran bagi sebagian orang dianggap salah atau tabu ketika mempertanyakannya atau dilakukan penelusuran untuk mendapatkan data yang lebih valid. Hal ini bisa disebabkan oleh penghormatan atau fanatisme individu atau bisa juga ketakutan ketika ternyata cerita yang didapat dari data tersebut menyimpang dari apa yang sudah diyakininya.

Padahal sejarah sebuah aliran bisa menjadi bagian kekayaan informasi tentang masa lalu bangsa ini. Bisa menjadi sebuah kisah yang sangat menarik seperti halnya cerita-cerita sejarah kerajaan atau biografi tokoh yang ada. Mungkin bisa masuk dalam kurikulum pelajaran sekolah atau malah jadi keilmuan khusus dibidang akademis. Tentu hal ini bisa menjadi bagian dari tonggak-tonggak memperkenalkan budaya bangsa ini kepada generasi penerus agar mendengar tentang silat sejak disekolah, barangkali dalam buku pelajaran sejarah yang bisa menceritakan salah satu sarana suksesi sebuah kerajaan mengembangkan sayapnya. Barangkali juga nanti akan ada mata pelajaran silat dan sejarah silat. Sehingga penelitian tentang silatpun akan meluas dan lebih banyak sudut yang mungkin digali selain bicara tentang jurus. Mungkin nanti akan ada jurusan filosofi silat, musik, senjata dan lain sebagainya yang bisa digali dari silat.

Tapi semua itu tentu bermula dari kesediaan semua pihak berlapang dada dan mau membuka diri agar informasi dapat diakses, kesediaan beradu argumen dengan data-data, dan dari semua itu yang paling penting adalah berlapang dada dan mau berbesar hati ketika segala yang diketahuinya ternyata harus mengalami perubahan.

Sudah siapkah mental para penganut aliran untuk menerima itu ?