Talek Dalam Gerak Gulung Budi Daya ti Padjadjaran

0

Talekan Amengan Gerak Gulung Budi DayaTalek adalah sebuah ritual atau upacara yang cukup umum berada dalam sebuah silat tradisional atau perguruan dengan tujuan dan maknanya masing-masing. Ada banyak sebutan,  talek, taleg, harkat, kecer atau lain sebagainya. Terkadang, masing-masing aliran atau perguruan memiliki definisi yang berbeda atas apa yang mereka lakukan dalam talek.

Di Amengan Gerak Gulung Budi Daya, yang biasa di sebut dengan Gerak Gulung pun terdapat tradisi talek. Talek di amengan ini merupakan sebuah upacara pengangkatan seorang murid secara resmi untuk belajar amengan Gerak Gulung. Di masa lalu, bahkan merupakan sebuah kewajiban untuk melakukan talek terlebih dahulu sebelum di perbolehkan mengikuti latihan.

Warga, begitulah sebutan bagi mereka yang telah melalui upacara talek ini.

Dalam prosesinya, tidak ada sebuah janji, sumpah atau sejenisnya yang harus dilakukan. Yang ada adalah kegiatan saling menasehati dan mengingatkan, mendengarkan petuah yang ditinggalkan oleh para pewaris tentang menjadi manusia seutuhnya, diingatkan tentang pengorbanan orang tua yang telah mereka lakukan pada kita sejak masih dalam kandungan, mendengarkan filosofi kehidupan dan berbagai nasehat lainnya dan juga biasanya dihadiri seorang pemuka agama untuk memberikan ceramah. Tak lupa tentunya perkenalan warga baru dengan mereka yang telah lebih dulu menjadi warga. Karena inilah inti dari kegiatan talek di amengan ini, saling mengingatkan kepada sesama agar berprilaku baik dan keras pada diri sendiri dan tentang kekeluargaan.

Setelah itu  mendengarkan nasehat-nasehat, dilakukanlah pemotongan tumpeng untuk di makan bersama.

Makan bersama dalam upacara talek inipun merupakan sebuah ritual khusus yang dinanti oleh para warga yang sudah pernah mengikuti upacara talek ini, yaitu, makan bersama diatas lamparan daun pisang yang mana nasi dan lauk pauknya di tebarkan diatasnya, kemudian semua warga makan bersama disana. Nasi putih, nasi tumpeng, ayam bakar, sayuran, tahu dan tempe merupakan menu yang dapat dikatakan standar. Disinilah sebuah kesempatan untuk lebih mengenal para warga yang ada dilakukan. Duduk bersama dalam suasana kekeluargaan, kadang saling berebut lauk dan bersaing dan unjuk kemampuan makan, tapi tentu saja dalam suasana ini, saling berbagi makanan yang tersedia melambangkan sebuah persaudaraan yang erat diantara para warga. Bahkan biasanya Rakawira pun ikut duduk bersama menghadapi pertempuran di depan lamparan daun pisang ini. Bertempur bersama untuk menghabiskan makanan supaya tidak ada yang terbuang sia-sia.

Diakhir kegiatan makan ini, biasanya para warga sedikit melakukan latihan. Kenapa sedikit ? Maklumlah, rata-rata masih pada kekenyangan. Malah kadang ada yang sehabis latihan makan lagi. Tapi obrolan santai sambil mendengarkan berbagai nasehat biasanya merupakan sebuah menu yang terus berjalan selama upacara ini bahkan sampai setelah makan dalam suasana santai sambil menikmati kopi.

Bagi sebagian warga pelaksanaan talek pun merupakan sebuah kesempatan bercengkrama dalam suasana persaudaraan sebagai sebuah keluarga amengan Gerak Gulung Budi Daya karena pada saat seperti ini terkadang warga dari kota lain ikut pula hadir ke kediaman Rakawira di Ciomas Bogor.

Bagi mereka yang ingin mengenal lebih jauh tentang amengan Gerak Gulung Budi Daya, dapat mengikuti workshop yang akan diadakan oleh Tangtungan Project pada tanggal 22 September 2013.

https://tangtungan.com/events/2013/09/workshop-pencak-silat-vs-tantangan-jaman-jakarta/

 

Talekan Amengan Gerak Gulung Budi Daya

 

Talekan Amengan Gerak Gulung Budi Daya

Talekan Amengan Gerak Gulung Budi Daya