Sekelumit Kisah Dibalik Panggung Malioboro Pencak Festival 2013

0
kompas tv - sponsor acara malioboro pencak festival 2013
Kompas TV – Salah satu sponsor acara Malioboro Pencak Festival 2013

 

Saya bukanlah panitia Malioboro Pencak Festival 2013. Saya hanyalah seorang peserta dan pecinta silat yang mempelajari salah satu silat tradisional yang hadir juga disana di acara tersebut.

Hanya saja saya sering berbincang dan melihat langsung sebagian kerja panitia dan juga sempat sedikit mengikuti panitia, sedikit banyak melihat gejolak perjuangan para panitia yang berjuang mewujudkan festival ini yang berawal dari sebuah mimpi menjadi sebuah kenyataan.

Kalau dulu saya membayangkannya hanya sebagai sebuah kegiatan pesilat dengan lingkuangan daerah Yogyakarta saja yang sedikit melebar kebanyak kota lain, tapi ternyata juga dihadiri oleh para pesilat dari manca negara dan di liput oleh siaran berita luar negeri, salah satunya stasiun berita BBC London mengirimkan utusan langsung dari sana untuk meliput acara ini. Maka rasanya tak salah bila saya menilai acara ini adalah sebuah acara bertingkat internasional.

Satu hal yang pasti dan selalu menjadi masalah dalam membuat sebuah kegiatan adalah masalah sponsorship. Untuk kegiatan silat mencari sponsor itu masih belum terlalu mudah. Apalagi untuk acara yang membutuhkan dana yang besar. Saya sempat berbincang dengan panitia soal kesulitan mendapatkan sponsor ini karena kebetulan istri saya membantu membuatkan list sponsor. Dan tak terhitung banyaknya proposal yang saya dengar di tolak dari yang ditolak baik baik hingga di tolak mentah-mentah atau di diamkan saja tanpa berita. Maka bisa terbayangkan kalau para panitia masih berjuang memenuhi dana yang diperlukan untuk mewujudkan acara ini sampai hari terakhir dan saya tahu persis kalau dana yang didapatpun tak bersisa sedikitpun, bahkan di sejumlah tempat harus di tanggung oleh panitia secara pribadi.

Mengenai dana, saya juga sempat berbincang dengan sejumlah guru yang tidak memiliki cukup dana untuk dapat berangkat, tapi mereka bisa tetap hadir dalam acara di Yogyakarta ini. Salah satunya adalah karena panitia masih berusaha dan berjuang untung mendapatkan dana bagi mereka agar bisa tetap berangkat ke acara ini, disamping sebagian dari mereka berjuang sendiri mencari sponsor untuk bisa memberangkatkan tim mereka. Tentu saja hal ini tidak bisa di anggap remeh. Karena tidak semua sesepuh silat memiliki kantong yang cukup untuk bisa memberangkatkan diri sendiri. Bahkan beberapa diantaranya hanya bisa hidup secara hari demi hari dengan penghasilan seadanya untuk keluarganya. Tentu saja kehadiran mereka yang diperjuangkan untuk bisa ikut menikmati acara ini patut mendapatkan acungan jempol.

Saya merasa berbangga hati, diantara sekian banyak perusahaan dan organisasi yang acuh tak acuh, masih ada yang bersedia meluangkan sedikit keuntungannya untuk membantu terlaksananya acara ini.

Dari bincang-bincang saya dengan sejumlah panitia, ternyata jumlah orang yang berada di balik layar inipun cuma sedikit sekali. Belum lagi sejumlah panitia yang mengundurkan diri “ditengah” acara secara mendadak yang tentu saja membuat panitia yang tersisa harus mengokohkan pundaknya menerima beban tugas tambahan. Saya yang lagi-lagi kebetulan duduk bersama rombongan saya sambil ngopi di dekat meja registrasi mendengar keluh kesah lelah seorang panitia yang sedang di kerubuti sejumlah peserta untuk membagikan konsumsi dan mengurus registrasi yang walaupun begitu masih bisa tersenyum. Saya hanya bisa terharu melihat perjuangan para panitia yang pontang panting kesana kemari dengan jumlah terbatas dan lagi-lagi dilakukannya dengan sukarela.

Saya sempat bertanya kepada salah satu panitia ketika malam minggu tim demo PAS manggung, “Mengapa tim PAS ketika demo terlihat tidak sekompak biasanya ? Padahal saya lihat di video persiapan mereka kekompakannya sangat bagus”.

Jawabannya adalah, “Mereka sudah kecapean mas, mereka juga jadi panitia yang harus ngurus ini itu dan juga harus bersiap untuk demo. Masih pada bangun saja sudah syukur.”.

Wah iya, saya langsung teringat semua wajah-wajah diatas panggung itu. Wajah-wajah lelah karena kurang tidur, yang sampai-sampai ada yang diajak ngobrol saja tidak nyambung karena sudah kelelahan. Terutama mbak Atik yang kebetulan agak sering bersinggungan tempat dengan saya seperti ketika mengatur registrasi dan mengurus makanan.

Ada lagi kisah lain yang kebetulan saya dengar karena saya berdiri menonton di samping panggung dekat sound system yaitu ketika acara kaul. Berminggu lalu saya sempat bertanya pada panitia apakah akan ada acara kaul dan apakah dari aliran saya harus tampil di panggung. Jawabannya adalah TIDAK, karena waktu yang terbatas. Jadi hanya yang dipilih saja oleh panitia dengan sejumlah pertimbangan yang akan tampil.

TAPI demi memenuhi banyaknya permintaan dan keinginan panitia untuk menyenangkan semua pihak akhirnya acara kaul tetap diadakan. Ternyata ijin yang diberikan pun hanya sampai jam 10 malam.  Sementara acara molor 1 jam lebih karena harus menunggu mereka yang mewajibkan para panitia untuk menunggu tapi tak mampu tepat waktu. Dan ketika itu saya dengar para panitia berusaha agar bisa memperpanjang waktu agar bisa lebih dari jam 10, sehingga dengan “sejumlah” pengertian, acara masih bisa diteruskan hingga jam 12. Saya yang kebetulan berada disitu sungguh terharu melihat usaha mereka untuk bisa tetap menyenangkan semua pihak.

Di acara manggung tersebut saya juga berjumpa dengan Mas Nanang yang terlihat duduk lesu di pojokan karena kurang tidur. Mas Nanang ini yang menjaga sound system semalam sejak sehari sebelumnya hingga acara selesai. Tapi wajah kelelahannya sepertinya cukup terhapuskan dengan melihat berbagai atraksi di atas panggung yang sangat menarik perhatian.

Mereka-mereka para panitia inilah para sukarelawan yang berjuang agar mimpi ini jadi kenyataan.

Kalau bicara kekurangan disana sini dalam acara ini, saya sangat bisa melihat banyak kekurangan dalam acara ini. Kalau mau di jejerin pasti akan banyak sekali salah dan dosa panitia dalam mengurus acara ini.

Tapi saya tentunya tak punya hak untuk memprotes. Malah saya perlu berbangga hati menjadi bagian dari acara ini dan saya sangat terharu melihat perjuangan tak kenal lelah mereka yang mewujudkan sebuah mimpi adanya perhelatan pencak silat untuk bisa dikenang oleh banyak orang. Mau protes dengan kekurangan tentunya sangat tidak layak untuk saya lakukan karena saya hanya pengunjung yang menikmati acara ini dan tidak merasakan sendiri perjuangan panitia yang telah mewujudkan mimpi ini menjadi kenyataan. Tidak ikutan capeknya jadi panitia, tidak perlu ikutan tidur di tugu yang dingin seperti mas Nanang dan tidak harus mencuri kesempatan untuk bisa tidur seperti mbak Atik. Hanya perlu mengikuti jadwal acara saja yang itupun tidak dipaksakan, kalau capek bisa tidur saja di hotel. Sementara mereka para panitia harus tetap pontang panting kesana kemari dengan keterbatasan jumlah mereka.

Saya hanya seorang penonton yang betul-betul menikmati hasil kerja keras mereka. Bahkan menikmati fasilitas panitia dengan berdiam di hotel yang disediakan untuk para guru karena tidak ingin ketinggalan kesempatan berjumpa dengan mereka. Seorang penonton yang merasakan kenikmatan ekstra yang secara tidak langsung diberikan panitia dengan bisa berjumpa sesepuh dari berbagai aliran dan mendapatkan cinderamata berupa pengalaman mereka dalam bersilat.

Saya cuma seorang penonton dan peserta yang menyaksikan betapa indahnya berbagai aliran dan perguruan silat bahu membahu untuk mewujudkan acara ini dengan tidak memikirkan EGO pribadi atau organisasi yang mengharuskan nama mereka tampil di depan agar terlihat paling berjasa. Saya jelas belum tentu mampu menciptakan acara sebesar ini.

Pada tanggal 1 hingga 2 Juni 2013 resminya, tapi pada kenyataannya sejak tanggal 31 Mei hingga 3 Juni 2013, saya sebagai penonton menikmati mimpi yang jadi kenyataan ini, menikmati acara yang di sediakan panitia, menikmati kesempatan berjumpa dengan para guru dari berbagai aliran, menikmati ilmu yang mereka bagikan.

Tapi setelah acara ini, masih ada banyak PR bagi kita para pesilat untuk lebih memajukan silat lagi. Momen ini bukan hanya berhenti disini. Tapi hanya sebagian kecil dorongan untuk kita bisa melangkah maju lebih jauh lagi ke depan. Sudah siapkah kita untuk itu ?

Semoga akan ada kesempatan sejenis ini yang bisa kembali diciptakan, agar kita tak pernah lupa akan arti persaudaraan. Agar persaudaraan tidak hanya menjadi moto dan tema tanpa kenyataan.

Kepada para panitia, para sponsor juga sejumlah donatur yang mendukung acara ini,

Saya memberanikan diri mewakili para pengunjung dan peserta yang menikmati acara ini untuk mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas kenangan ini. Saya memasukan sejumlah logo para sponsor disini yang bisa saya ketahui, untuk yang tak saya ketahui, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

 

RBTV_Jogjakarta

 

 

Bank BPD DIY

KR

Logo_Bank_Bukopin Radio-MBS-92.70-FM Retjo-Buntung-99.4-FM handayani logo swaragama hitam rakosa_FMsponsor cakra v