Perjalanan Mencari Silat (Sebuah Catatan Bagian 8)

0

Ara masih terus merenungkan makna dari sebuah jurus.

Pemikirannya ini membawanya menelusuri pedesaan di daerah palembang. Hingga tibalah Ara di sebuah desa dimana dia sedang berjalan kaki karena kemalaman. Tak sengaja telinganya mendengar suara hentakan kaki yang cukup seru. Rasa akan adanya seseorang yang sedang berlatih silat menghinggapi.

Dengan rasa penasaran Ara mencari sumber suara tersebut. Tak lama Ara menemukan 2 orang tengah berlatih silat dibawah bimbingan seorang tua.

Ada rasa ragu untuk menghampiri karena ditakutkan bila menghampiri akan di anggap mengganggu latihan dan menantang, tapi juga ada rasa ragu untuk duduk dipojok lapangan kecil itu sambil menonton karena takut di kira mencuri ilmu. Pemikiran itu timbul karena sebelumnya ketika Ara menemukan sekelompok orang yang tengah berlatih silat dan di hampiri untuk sekedar bertanya ternyata dianggap ingin menantang. Ternyata aturan mereka adalah harus menunggu hingga mereka selesai berlatih baru boleh menghampiri. Yaaa mana Ara tahu, sehingga suasana menjadi serba tidak enak. Aturan-aturan silat tradisional yang kadang masih kaku ini yang membuatnya ragu.

Tapi daya tarik melihat jurus yang sedang dimainkan mereka begitu menggoda. Jurus yang sedang dimainkan sangat tidak asing baginya. Jurus dari aliran Sahbandar.

Ara pun memutuskan berani mengambil resiko dan mengucapkan salam serta memberi hormat.

Ternyata penerimaan mereka sangatlah baik. Setelah berbincang, tahulah Ara kalau mereka ini tengah berlatih silat aliran keluarga. Mereka adalah bapak dan anak-anaknya. Tapi mengapa begitu mirip jurusnya ?

Menurut penuturan sang bapak, aliran mereka diturunkan sejak jaman dahulu kala dari bapak ke anak-anaknya. Anak yang diajarkan pun adalah hanya yang terpilih, artinya tidak semua anaknya diajarkan dan tidak boleh di ajarkan kepada orang luar. Menurutnya pula, bahwa keluarga mereka adalah keturunan dari seorang tokoh legenda yang pernah di angkat juga ke layar lebar bertahun-tahun yang lalu, yang mewariskan ilmu tersebut kepada keturunannya.

Selain jurus yang mirip dengan Sahbandar tersebut, ternyata ada jurus lainnya juga yang mana walaupun jurusnya sedikit dan sederhana tapi sangat indah dalam kesederhanaannya.

Satu pertanyaan besar yang tidak ada jawabannya hingga kini adalah, bagaimana bisa menyerupai Sahbandar yang Ara pelajari ? Apakah asalnya dari Jawa Barat dan dibawa ke sana ? Ataukah inilah jurus aslinya Sahbandar ?  Siapa yang tahu ???

Lagi pula aliran yang Ara temukan ini hingga hari ini tidak pernah menunjukan diri barang sedikit pun. Mungkin mereka masih tetap memegang pakem dasarnya untuk hanya mengajarkan pada keluarganya saja.

Berdasarkan penuturannya, yang dapat dipastikan adalah sejumlah 5 generasi diatasnya yang mempelajari aliran ini.

Akhirnya Ara menginap disana dan mendapatkan banyak pengetahuan baru dari mereka.

Pagi harinya Ara pergi melanjutkan perjalanannya menuju tanah minang untuk mencari Silek.