Berbagi Ilmu Berbagi Wawasan

3

Berbagi Ilmu Berbagi Wawasan

Seperti biasa hari Sabtu,  8 Juni 2013, beberapa penggiat Silat Tradisional berkumpul di salah satu sudut Padepokan Pencak Silat Taman Mini. Yang membuat agak berbeda kali ini, kami kedatangan tamu rombongan pesilat-pesilat belia penghuni dari sebuah forum diskusi beladiri di Facebook. Salah seorang tokoh forum tersebut, sdr Rangga, memang sengaja mengajak kawan-kawannya untuk meningkatkan wawasan Silat Tardisional sekaligus pemahaman akan budaya yang mendasari aliran-aliran silat yang ada.

Acaranya berlangsung secara informal. Santai, diselingin canda tawa dan seruputan Kopi, di sela-sela derasnya hujan yang mengguyur Ibukota. Dimulai dengan mereka “mencicipi” pola latihan dari Amengan Gerak Gulung Budi Daya, dan diberikan penjelasan mengenai konsep gerak dan konsep dasar serta sejarah dari Gerak Gulung oleh Mas Matias Prasodjo dan juga Kang Awang (Rakawira Gerak Gulung). Sudah bisa ditebak bahwa pada awalnya mereka terheran-heran dan cenderung “menggampangkan” jurus Salancar, jurus dasar Gerak Gulung yang paling esensial. Terlihat wajah-wajah penuh kebingungan saat melihat dan merasakan jurus salancar tadi. Sangat berbeda dengan persepsi mereka selama ini, jurus itu harus selalu berupa rangkaian jurus kompleks lengkap dengan estetika dan lain-lainnya. Sedangkan  jurus Salancar hanya satu jurus, tapi multi fungsi.

Acara dilanjut dengan diskusi dan pembabaran dari masing-masing rekan-rekan yang hadir. Pada sesi ini saya menjelaskan mengenai sejarah singkat tentang silat dan beladiri lain dari nusantara, mengenai perbedaan Silat versi pertandingan dan Silat versi Tradisional non pertandingan, mendiskusikan soal pengertian kembangan (ibingan, igelan, nandak), sikap pasang dalam konsep alam pikiran tradisional. Saya juga menjelaskan mengenai makna tersirat dan tersurat dari konsep jurus dalam Silat Betawi Paseban, dari mana asalnya kuncian bantingan di Silat Paseban. Saya mencoba menjelaskan bahwa Silat itu luas, bahwa dalam silat juga dikenal namanya kuncian, pitingan dan bantingan. Membedah jurus satu Paseban,  dimana gerakan yang terlihat seperti sekedar memukul, ternyata memiliki mana luas tidak hanya sekedar memukul, tapi jauh lebih luas dari sekedar memukul. Saya juga menjelaskan mengenai gambaran umum mengenai aliran-aliran silat di tanah Betawi beserta budayanya.

Mas Matias Prasodjo menjelaskan mengenai konsep jarak, timing, dan pemahaman mengenai esensi dari jurus, juga soal body mechanic dan muscle memory. Bercerita juga mengenai pengalamannya selama “meneliti” berbagai aliran silat. Tidak lupa Mas Matias Prasodjo kembali membuat rekan-rekan pesilat belia tadi melongo, mengerenyitkan dahi, melalui beberapa games/permainan yang menjelaskan mengenai konsep halusan dalam silat. Halusan di sini bukan berbicara soal gaib, isian ataupun tenaga dalam. Tapi berbicara soal konsep “leuleus”/lemes dalam terminology silat sunda. Bagaimana pengaplikasian dari sistem keras dilawan dengan kelembutan, bagaimana “berolah rasa”.

Dilanjutkan dengan pembabaran mengenai teknik Silat Beksi jalur Kong Nur oleh Bang Yoga. Menjelaskna mengenai bentuk kuda-kuda dasar Beksi dan juga pukulan khas Beksi yaitu “pukulan telentang”, pukulan dengan bentuk posisi kepalan tangan terbalik, seperti bentuk pukulan uppercut dalam olahraga tinju, tapi lintasannya seperti pukulan straight/cross. Bang Yoga juga menjeskan filosofi dari pukulan telentang tadi, bahwa bentuk pukulan telentang melambangkan bentuk telentang yang artinya kepasrahan. Artinya ketika dalam pertarungan, ya harus pasrah dalam pengertian positif, bahwa ketika lawan memukul , ya pukul lagi dengan perhitungan dan harus siap juga menerima seragan balasan dari lawan. Ujung-ujungnya terkandung filosofi mengenai keikhlasan dan kepasrahan dalam arti positif ketka mengarungi kehidupan.

Kemudian berlanjut dengan peragaan Silek Taralak oleh sdr Ferdi. Diperagakan bentuk dasar Langkah Ampek dan juga “tari” Galombang. Diskusi hangat mengenai silek minang, disertai berbagi pengalaman dari sdr Rangga yang melakukan napak tilas , sowan ke guru-guru silek minang di berbagai wilayah pelosok ranah Minang. Kebetulan sdr Nopentus –untuk lebih menghangatkan suasana- bersedia berbagi sekedar satu dua teknik aplikasi menghadapi tendangan versi Silek Baringin Sakti yang dipelajarinya dari Bpk Edward Lebe.

Tak terasa matahari semakin tergelincir di ufuk barat dan hari semakin gelap, namun demikian diskusi santai ini semakin hangat. Dalam acara bebas-informal ini, masing-masing peserta bebas untuk bercerita pengalamannya, dan juga bertanya kepada siapa pun yang kali itu hadir. Saat udara malam mulai berhembus, Mas Pras mulai menyetel musik Kembang Beureum , Kendang Pencak Padungdung, Tepak Dua, Tepak Tilu, Kacapi Suling Cianjuran dan juga alunan Saluang. Salah seorang peserta terlihat sangat antusias memperhatikan dan bertanya mengenai musik dalam silat dan juga bagaimana gerakan-gerakan ibingan. Kang Awang mulai sedikit demi sedikit berbagi gerakan dan berbagi tips untuk melakuakn ibingan. Kawan-kawan lainnya pun lama-lama “mulai terpancing” untuk sekedar menggerakaan tubuhnya, memainkan jurus walaupun sambil duduk dan menikmati iringan musik tersebut.

Terasa indah sekali kebersamaan ini, walaupun beda generasi, beda aliran, beda konsep dalam silat, akan tetapi bisa duduk bersama, berdiskusi saling berbagi ilmu. Tidak lupa ditemani dengan kopi panas.