Pukulan Jarak Pendek

3
Maenpo Cikalong Abah Azis Asy'arie
Maenpo Cikalong Abah Azis Asy’arie

Pasti pernah dengar tentang pukulan jarak pendek yang terkenal, pukulan 1 inchi.

Apakah silat memiliki pukulan jenis ini ? Punya tidak yaa ???? Biar yang punya saja yang bilang.

Tapi yang ingin saya bahas disini, tidak selamanya pukulan tersebut membutuhkan sebuah tekanan yang kuat. Kebanyakan kita sekarang ini lebih melihat keindahan sebuah pukulan dari seberaba besar benturan yang bisa di hasilkan. Tidak salah tentunya, tapi tidak semua berpendapat sama. Hanya saja sebagian paham tradisional biasanya tidak tercangkup didalamnya. Silahkan tonton film tentang penelitian ilmu beladiri, “Fight Science“, yang meneliti benturan yang dihasilkan oleh serangan para ahli beladiri. Peralatan dummy yang tersedia disana mampu memberikan gambaran apa yang terjadi pada tubuh manusia setelah mengalami sebuah serangan, misalnya sebuah pukulan. Tapi ada hal yang tak mampu di tiru oleh dummy tersebut, yaitu response yang dibutuhkan ketika melepaskan sebuah serangan sehingga sebuah serangan yang tidak terlalu keras menurut ukuran si dummy bisa memberikan efek kerusakan yang lebih dari yang bisa di catat atau terlihat.

Sebuah pukulan yang keras tidak selalu harus bersumber dari tenaga otot kita sendiri. Betul, sebagian aliran silat memanfaatkan tenaga lawan untuk dapat menghasilkan efek benturan yang jauh lebih besar bisa dibandingkan dengan pukulan praktisinya kearah sebuah dummy. Selain itu penggunaan sudut serangan serta model atau bentuk pukulan juga menjadi sesuatu yang bisa sangat menentukan hasil dari sebuah serangan.

Pernahkah mereka meneliti hal ini ? Sulit karena belum ada dummy yang mampu memberikan response seperti layaknya manusia.

Misalnya sebuah sambutan dari sebuah serangan yang bisa menghilangkan efek tenaga lawan sehingga lawan menjadi terhuyung-huyung. Pada kondisi tertentu, kondisi ini bisa membuat lawan menjadi berkurang “pertahanannya” di bagian tertentu tubuhnya sehingga bisa mengalami cedera serius akibat sebuah serangan yang normalnya tidak berefek banyak.

Silahkan praktekan. Lemaskan seluruh badan lalu dorong tiba-tiba dari arah belakang dengan sudut tertentu pada bagian punggung. Kalau sudut dorongannya tepat dan dilakukan dengan timing yang tepat pula, leher bisa terasa sakit akibat respon dorongan tersebut. Mungkin tidak terjadi lemas ketika dalam pertarungan ? Mungkin saja. Contohnya di aliran silat Cikalong misalnya yang dimainkan oleh Abah Aziz, yang banyak memanfaatkan dan mempermainkan tenaga lawan. Juga di Cakra-V dengan gurunya mas Amien dan dibanyak aliran Sahbandar dan juga dalam Timbangan (yang tidak mau disebut sebagai silat).

Sebagai catatan Cikalong dari abah Aziz ini tidak memperbolehkan menyakiti lawan, sehingga ada pepatahnya yang mengatakan, kalau masih menyakiti lawan berarti harus belajar lagi. Penyebutannya disini hanya untuk menggambarkan permainannya yang banyak menggunakan pengalihan tenaga. Juga timbangan yang tidak memiliki teknik pukulan. Hanya saja dapat dibayangkan seandainya teknik-teknik aliran ini di gabungkan dengan teknik yang menggunakan pukulan ketika lawan sudah dalam keadaan tidak seimbang lagi dan memiliki titik “kosong” untuk diserang.

Tentu saja tidak semudah dibicarakan. Butuh latihan yang lama untuk bisa menguasainya bentuk seperti ini. Dan seringnya latihan yang lama ini yang tidak diminati oleh kaum muda penggemar silat instan. Karena hasil latihan ini tidak bisa di tiru dengan melihat atau bahkan dengan mencoba latihannya tanpa memiliki dasar yang cukup untuk bisa menguasainya.

Kembali ke pukulan jarak pendek. Ketika lawan sudah bisa di kuasai sehingga titik serang menjadi “kosong”, barulah sebuah pukulan jarak pendek yang “biasa” saja tekanannya biasanya dilepaskan. Dan dengan tenaga seadanya menghasilkan efek yang lebih dari yang seharusnya bisa tercatat oleh data statistik menggunakan dummy.

Apa yang saya bahas diatas adalah sebuah bagian dari latihan yang harus ditemukan melalui proses latihan, proses pemahaman atas filosofi, sesuai dengan jalur dalam alirannya. Karena tentu saja tidak mudah untuk membuat “kosong” lawan yang ber-“isi”.