Perjalanan Mencari Silat (Sebuah Catatan Bagian 18)

0

Dini hari itu, Ara tengah duduk sendiri ditengah malam yang sepi. Hari itu perasaannya tengah tak menentu. Begitu banyak urusan yang harus di benahi. Emosinya terpicu. Dalam gelap di lereng pegunungan itu dia berusaha bermeditasi menenangkan diri. Meditasinya tak tenang. Mendadak terbersit sebuah kejadian yang dialaminya ketika memulai sebuah pelajaran baru dari gurunya.

“Hari ini kita akan belajar dari kitab ini, kitab tentang bumi”, kata sang guru.

“Pelajarannya terbagi atas dua hal besar”, lanjut sang guru sambil kemudian menjelaskan tentang ke dua hal tersebut. “Kamu akan memulai pelajaran dari bentuk yang ini”, lanjutnya.

Ara muda pun mendengarkan dengan seksama kisah tentang penciptaan dan lain sebagainya. Hingga di satu saat Ara berpikir, “Teknik ini bagaikan kisah jalan dewa dan jalan setan”.

“Jalan setan (memakai istilah yang dibuat oleh Ara sendiri) akan menjadi pelajaran pertama kamu. Akan jadi pegangan pertamamu. Tapi sebelumnya pahami dengan baik. Jalan ini begitu menggoda. Cukup mudah di raih yang akan menunjang seluruh teknik yang pernah kamu pelajari.Terlihat lebih gagah, lebih sangar, Tapi, selalu akan ada konsekuensi atas pilihan ini. Gunakan hanya ketika kamu tidak akan menyesal mengeluarkannya”.

Lalu Ara pun melakukan sejumlah bentuk latihan. Sampai suatu hari, Ara diberikan sebuah pisau.

“Saatnya menguji tahap pertama dan mari kita lihat dan kamu rasakan sendiri efeknya.”

Ara pun di hadapkan pada sebuah target, sebatang pohon pisang yang berukuran cukup besar.

“Panggillah jalan setan dan seranglah”, perintah sang guru.

Dan Ara pun memulai tata krama pemanggilan dan langsung menyerang. Serangan pertama, kedua, dan seterusnya hingga pohon itu roboh dan mulai hancur menjadi serpihan.

Samar didengarnya teriakan untuk berhenti, tapi rasa hati dan dipikirannya seakan tidak ingin berhenti menyerang. Dan Ara terus menyerang hingga …….

Sebuah tongkat di pukulkan ke kepalanya dan dalam sekejab Ara berbalik dan menyerang pemukulnya. Sebuah serangan yang di lepaskan dengan sepenuh hati.

Hantaman tongkat dan tangkisan  yang di hantamkan ke tangannya seperti tak terasa. Sebuah tinju mengenai muka Ara hingga terlempar dan tersungkur, tapi sekejab Ara langsung bangkit dan kembali menyerang dan sebuah hantaman sangat keras menghantam perut dan mukanya lagi.

Kali ini Ara tersungkur dan sulit untuk bergerak lagi. Tenaganya seperti terkuras habis seluruh tubuhnya sakit.

“Bangun nak”, terdengar suara mengiang di telinganya.

“Lakukan penutupan”, lanjut suara itu.

Ara yang merasakan seluruh badannya sakit hanya bisa berguling telentang dan mencoba memulihkan diri agar bisa bangkit dan kemudian dengan tertatih mencoba untuk duduk.

Sang guru membiarkan saja Ara mengalami semua itu sambil memasak air dan membuat teh hangat.

“Minum”, perintah sang guru sambil memberikan segelas teh hangat.

“Apa yang kamu rasakan?”, tanya sang guru.

“Sakit”, jawab Ara

“Masih ingat dengan apa yang kamu lakukan?”, tanya sang guru lagi.

Dan Ara pun baru memperhatikan sekelilingnya, pohon pisang yang hancur tercacak jadi serpihan sangat kecil, tidak hanya satu tapi banyak pohon, telapak tangannya terluka. Ara memperhatikan sekelilingnya dan bertanya

“Berapa lama aku melakukan ini semua”.

“Kurang lebih sekitar 1 jam”, jawab sang guru.

“Apa ???”, Ara terkejut dan takjub.

“Itulah kenapa ini adalah jalan yang mudah diambil tapi memiliki tantangan besar untuk mengendalikan diri. Kamu jadi sangat kuat, bisa bergerak cepat, seperti tak punya rasa sakit, tapi kamu sedang menghancurkan dirimu sendiri”, kata sang guru.

“Aku memperkenalkanpun pada jalan ini terlebih dahulu agar kamu bisa memikirkan dirimu sendiri nanti. Kekuatan itu selalu ada balasannya ke diri sendiri. Agar kamu merasakan sendiri yang namanya kekuatan berbalik pada diri sendiri. Bahkan untuk mengajarkannyapun sudah sangat berbahaya”, sambung sang guru sambil memperlihatkan tangannya yang ternyata terkena goresan pisau.

“Inilah aliran kita, kita belajar dengan merasakan dan mengalami.”, lanjut sang guru.

“Hari ini aku berikan sebuah latihan yang membuat kamu bisa merasakan dan mengalami seperti apa rasanya menjadi kuat tapi pada akhirnya menghancurkan diri kamu sendiri. Tapi tentu saja dengan cara menjinakannya ada hal-hal baik yang bisa kita raih disana. Ini pelajaran yang berat, karenanya untuk bagian ini, kuminta kamu berhenti berlatih yang lain dulu. Fokuskan hingga kamu bisa menjinakannya. Ini adalah teknik yang dapat digunakan oleh kaum petarung yang akan berangkat berperang yang membuat mereka lupa akan rasa sakit, rasa lelah, hingga batas akhirnya tercapai. Sayangnya, tanpa kendali, hati nurani kamu bisa kehilangan jati dirimu. Jadi waspadalah berlatih hingga selesai kamu pelajari bagian ini”, lanjut sang guru lagi.

Di hadapannya, Ara mendengarkan semua itu dengan bergidig. Apakah teknik seperti ini memang digunakan di jaman dulu untuk berperang ?

“Apakah teknik ini sebenarnya menggunakan ilmu gaib ? Apakah saya di isi sesuatu ? Kenapa kita tidak ? “, tanya Ara.

Sang guru tertawa sambil berkata, “Di tempat lain mungkin begitu. Tapi di aliran kita disini berbeda. Kita hanya belajar mengenal sesuatu yang sudah ada dalam diri kita sendiri. Satu per satu. Belajar mengenal diri kita sendiri.”.

“Itulah kamu ketika emosi menguasai diri kamu sepenuhnya”, kata sang guru sambil menunjuk tumpukan pohon dan luka di tangannya.

“Kamu harus belajar bersabar”, lanjut sang guru.

Ara muda bergidig ngeri dan berpikir sambil merasakan sakit yang melingkupi seluruh tubuhnya.

Malam makin larut. Pelajaran masih panjang, seperti apakah wujud pelajaran ini nanti ?