Karinding

0
karinding
karinding dan celempung mini untuk wadahnya

Suatu hari sehabis latihan bersama dengan teman-teman sealiran saya di sebuah lokasi yang dingin di kota Sukabumi sambil mendengarkan lagu-lagu daerah dari tatar Sunda, teman-teman yang bergabung dalam sebuah kelompok bernama Jaka Sunda ini kemudian mengiringi latihan memainkan nandakan (tarian) dengan menggunakan alat-alat musik sederhana yang mereka bawa yaitu karinding dan celempung. Suasana malam yang agak sedikit remang karena pencahayaan terbatas, di temani kopi di malam hari, mendengarkan musik diiringi alat musik ini sangat menghanyutkan suasana. Sungguh luar biasa sekali.

Alat musik jenis pukul ini agak sedikit lain, karena untuk menghasilkan suara alat ini harus di letakan di mulut yang digunakan sebagai penghasil nada dengan memanfaatkan rongga mulut dan tenggorokan. Terlihat mudah memainkannya tapi ternyata cukup sulit untuk membuatnya sekedar berbunyi. Bahkan kalau tidak hati-hati bisa merusaknya dan terbukti minggu lalu seorang kawan ketika mencoba memainkannya malah mematahkannya karena memukulnya terlalu kuat dan salah arah. Setelah ketukan dilakukan dengan benar, lalu masih harus berlatih mengatur rongga mulut dan tenggorokan agar bisa menghasilkan nada yang tepat dan sesuai dengan yang diinginkan.

Ada 2 jenis model karinding. Yang satu di pukul dan satu lagi yang disebut karinding toel (di sentuh).

Sebagai pelajaran dasar setelah belajar memukul dengan benar, kita harus belajar 4 jenis nada, yang intinya ada pada nada tongeret. Kalau sudah mahir melakukan tongeret yang lainnya akan cukup mudah di mainkan.  Nada lainnya adalah gogondangan, rereogan dan iring-iringan.

karinding
memainkan karinding

Banyak kisah mengenai kemampuan orang yang mahir menggunakan alat musik ini, mengundang, mengusir bahkan mengubah suasana hati hingga menarik lawan jenis pun menurut kisahnya dapat di lakukan dengan alat musik ini. Selain itu juga nada tertentu kadang digunakan sebagai kode atas sebuah kejadian, misalnya bila terjadi gerhana matahari atau bulan. Yang pasti, di jaman dulu alat ini umum digunakan untuk melakukan pengendalian hama, selain bagi para pemburu yang menggunakannya untuk menarik hewan buruan.

Apapun kisah dibaliknya, dibalik kesederhanaannya, alat musik sederhana ini sangat asik buat di mainkan. Tapi suara yang dihasilkan sangat enak didengar dan yang pasti sangat enak digunakan sebagai pengiring dalam nandakan. Berbagai lagu bisa dimainkan, lagu dengan gaya suara robotikpun bisa digunakan, bahkan bicara dengan gaya suara robotik ala robot dalam startrek pun dilakukan dengan alat ini.

Bagi saya sendiri, alat musik ini sangat enak di dengar sebagai pengiring dalam bermain nandakan. Seakan terbawa suasana yang lebih dalam. Mungkin karena nadanya yang mampu bermain di wilayah yang tak terdengar lagi oleh telinga menjadi penyebabnya. Entahlah, saya bukan ahlinya untuk membahas hal itu. Tapi yang jelas saya sangat menikmati bunyi toeng toeng yang di hasilkannya. Menikmati musiknya dan juga menikmati iringingannya ketika nandak. Hari itu seakan latihan saya mendapatkan dorongan untuk terus bermain hingga tak terasa kami berlatih hingga pagi hari.

Ada sebuah sentilan yang sempat keluar dalam diskusi bahwa nada-nada inipun berisi sesuatu yang berhubungan dengan jurus dalam silat. Bahwa nada dan vibrasi yang dihasilkan bisa membantu kita mengenal lebih dalam mengenai diri kita sendiri dan membawa suasana hati kita ke sebuah kondisi tertentu untuk melakukan jurus tertentu. Dan karena nada-nada ini, sering kali karinding digunakan sebagai pengiring dalam pembacaan rajah.

Menarik ???

Kalau berminat untuk melihat, belajar ataupun mencari peralatan seni sunda bisa menghubungi kang Hendi (+62 85718077547) dari Lingkung Seni Budaya Jaka Sunda yang selain membuat peralatan musik sunda, secara rutin juga melakukan latihan memainkan aneka alat musik daerah sunda, berlokasi di Bumi Menteng Asri, J. Terapi Raya Blok BD No. 16, Kel. Menteng Kec. Bogor Barat Kota Bogor.

Mudah-mudahan nanti ketika hadir dalam acara Wisata Pencak Nusantara dalam Pencak Malioboro Festival 2015, teman-teman yang sedang belajar memainkan karinding sudah cukup mahir memainkannya sehingga kita bisa menikmati lantunan dari alat musik sederhana ini. Doakan saja bukan nada sumbang yang dimainkan oleh tangan para pemain baru ini 😀

Terimakasih untuk kang Hendi dan kang Nuri yang telah dengan sabar mengajari saya memainkannya.