Elmu Penca Cimande (Bag. 2 Patalekan dan Keceran)

0

Materi Pokok Pendidikan dan Latihan Elmu Penca Cimande

 

Berdasarkan tradisi di Kp. Babakan Cimande Tarikolot,  terdapat tatanan baku pada pola pendidikan dan latihan, yang diterapkan dan diharapkan mampu dikuasai oleh anak murid Cimande.  Rangkaian materi pokok pendidikan dan latihan dimaksud adalah:

I.                    Patalekan dan Keceran
II.                 Jurus Buang Kelid
III.               Jurus Pepedangan
IV.                Ibing Tepak Salancar dan Ngadu Bincuran
V.                  Filosofi Elmu Penca
VI.                Aspek Mental Spiritual
VII.              Ilmu Pengobatan dan
VIII.            Elmu Kadigjayaan

 

 

I.   Patalekan dan Keceran

Elmu Penca Cimande memiliki doktrin yang ditanamkan kepada setiap calon anak muridnya melalui prosesi ijab kabul patalekan. Doktrin ini kemudian berfungsi sebagai sandi tata-krama, tata-dharma (kode etik) serta falsafah hidup yang harus disetiai dan dipegang teguh. Rumusan kode etik, atau dikenal dengan istilah Talek Cimande, di dalamnya terkandung nilai-nilai agung kemanusiaan, keluhuran budi pekerti, serta keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Suci.

Prosesi ijab kabul patalekan dirangkaikan dengan upacara keceran.  Calon anak murid menerima “Air Keceran” yang diteteskan Sang Guru ke dalam matanya, sebagai simbol komitmen anak murid untuk tetap setia memegang teguh nilai-nilai yang terkandung dalam Talek Cimande.

Patalekan dan Keceran juga menandakan dimulainya ikatan batin antara guru dan murid, sekaligus menjadi tanda pengesahan secara adat diakuinya seseorang sebagai anak murid cimande.

 

Isi dari TALEK CIMANDE adalah:

1.      Ulah ngalawan ka Indung ka Bapa

(berpantang diri mendurhakai Ibu dan Ayah)

2.      Ulah ngalawan ka dulur saluhureun

(berpantang diri membangkang terhadap saudara tua)

3.      Ulah baha ka guru, ratu, wong atua karo

(berpantang diri menentang Guru, pemerintah serta kedua orang tua)

4.      Ulah mipit teu amitngala teu menta

(berpantang diri mengambil hak /milik orang lain)

5.      Ulah jinah ranyed

(berpantang diri melecehkan dan memanfaatkan kelemahan kaumwanita)

6.      Ulah linyok bohong

(berpantang diri berbuat kebohongan)

7.      Ulah ujub takabur

(berpantang diri bersikap angkuh dan sombong)

8.      Ulah sirik pidik, jail kaniaya ka sasama

(berpantang diri bersifat iri, dengki dan melakukan segala bentuk penganiayaan)

9.      Samangsa-mangsa panggih jeung papada kaula di jalan anu heurin ulah kapiheulaan nyimpang, mun panggih di pasampangan ulah kapiheulaan nanya.

(menghindari perselisihan dengan mendahului berbuat kebaikan kepada orang lain)

10.  Dimana makalangan ulah ngasupan tiheula, tapi saupama diasupan batur teu meunangmundur najan satunjang beas,dina harti ulah ngejat ti pakalangan

(mampu menjaga kehormatan diri dengan senantiasa bersikap ksatria)

Patalekan anu kasebut di luhur, diiket ku hiji talek pamungkas, minangka sengkeranana nyaeta:

(seluruh isi patalekan tersebut, dibentengi oleh satutalekpamungkas, yaitu:)

11.  Kudu iman ka Allah jeung ka Rasulna

(Pikeun nucan asup Islam supaya ngalaksanakeun papagon agama anu jadi agemanana).

(Harus beriman kepada Allah dan Rasul-Nyabagi yang sudah beragama Islam. Sedangkan bagi yang belum memeluk Agama Islam dianjurkan untuk menjalankan dengan baik ajaran agama yang dianutnya)

 

Catatan penulis :

Alangkah indahnya, jika nilai-nilai di dalam Patalekan Cimande yang bersifat universal ini, dapat menjadi inspirasi,terwujudkan derap langkah bersama,seluruh elemen masyarakat Indonesia,dalam upaya membangun karakter dan jatidiri bangsa.

 

PROSESI PATALEKAN DAN KECERAN


Prosesi Patalekan (dok.CC)

  


Ijab Kabul Patalekan (dok.CC)

 

  

 

 

 

 

 

 

 


Jampe Air Kecer (dok. CC.) 

Keceran (dok.CC)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Catatan; Adanya sangsi moral bagi pelanggaran terhadap kode etik itu telah menjadikan Talek Cimande bagaikan ruh yang hidup di dalam ilmu seni beladiri ini dari generasi ke generasi.

 

 Bersambung Jurus buang Kelid…