Ara tiba kembali ke kota Bandung.

Pikirannya masih dipenuhi kejadian dalam gerbong kereta api di perjalannya tadi.

Sebuah pelajaran, tapi latihan seperti apa yang harus dilakukan untuk bisa mengatasi hal kondisi seperti yang ditemuinya tadi ? Apa yang kurang dari latihannya atau apa yang kurang dari silatnya ?

Sejak hari itu, latihan brutal dilakukan Ara. Setiap hari, setiap saat sempat, dia mengulang berbagai latihan yang telah didapatnya. Hari minggu adalah hari latihan sepenuhnya dari pagi setelah matahari terbit Ara pergi berlatih di perguruan silat Manderaga, dan setelahnya dia langsung berlatih berbagai latihan yang telah didapatnya  hingga adzan magrib. Hari-hari lainpun di isinya dengan beberapa latihan, pagi hari sebelum berangkat sekolah juga malam hari.

Suatu hari sang eyang datang berkunjung. Hari-hari latihanpun bertambah dengan berbagai latihan baru. Dari eyangnya ini Ara mendapatkan tambahan dari 10 bagian teknik pukulan berupa rangkaian latihan pernafasan dan juga latihan khusus untuk mempolakan pukulan, teknik pijatan dan lain sebagainya. Selama sekitar 1 bulan lebih sang eyang memberikan berbagai latihan.

Akhirnya diakhir latihan, Ara mendapatkan sebuah latihan yang dikatakan sebagai inti awal dari 10 teknik pukulan aliran silat ini. Untuk latihan ini disyaratkan untuk menyediakan tempat latihan yang khusus, yaitu kondisi udaranya dingin dan ada air mengalir yang cukup untuk beredam.

Maka dipilihlah sebuah lokasi di daerah Lembang Jawa Barat.

Ditempat tersebut, dimalam hari, ditengah dinginnya udara Lembang, Ara harus menggigil kedinginan dalam pelukan arus air yang dingin menusuk tulang. Bukan harus berjurus, justru harus diam dan tak boleh menggunakan teknik pernafasan untuk menghangatkan badan.

Selama berendam, Ara disuruh melakukan sejumlah tata krama latihan yang sangat tidak biasa baginya.

Sesekali Ara diangin-anginkan dengan disuruh keluar dari air dan berdiri diatas batu sambil diam dan mengulang latihan tersebut.

 

Sebuah sungai di dekat sebuah pohon beringin besar menjadi saksi betapa tersiksanya Ara oleh hawa dingin yang menusuk tulang yang dikondisikan oleh eyangnya agar tidak pernah bisa beradaptasi dengan kondisi dingin tersebut. Ditambah selama itu juga sang eyang asik didepannya menghangatkan kopi panas, bikin indomie yang terlihat mengepul panas didepan api unggun yang begitu menyakitkan hati Ara yang menatapnya.

Latihan pun selesai. Ara pun mendapatkan lagi berbagai filosofi tentang silat sebuah bagian yang masih kurang dipahaminya dari silat. Tapi pagi itu Ara mencoba untuk bercerita tentang kejadian di gerbong kereta dengan seseorang yang menguasai silat yang disebutnya “Silat Santri”.

Sang eyang hanya menanggapinya dengan tertawa dan berkata, “Karena kamu belum bisa memahami apa yang kamu pelajari”.

“Jurus itu bukan sekedar serangan atau hindaran. Jurus adalah sebuah kisah yang menceritakan berbagai kejadian. Jurus adalah ungkapan pemahaman. Saat kamu sudah memahami arti dari gerakan, kamu juga harus bisa menjalaninya. Selama hanya memahami, maka kamu masih tetep tidak bisa disebut menguasai jurus. Tau belum tentu paham, paham belum tentu sanggup menjalani. Nanti waktu kamu sudah bisa menjalani mudah-mudahan kamu tidak kalah. Tapi yang menentukan kalah menang bukan cuma seberapa hebat kamu menguasai jurusmu tapi juga nasib. Karena kadang seoseorang seberapa hebat pun bisa saja kalah hanya karena nasib. Kepeleset misalnya”, lanjut Eyangnya.

Beberapa waktu kemudian setelah berbagai latihan, sang eyang mengajak Ara untuk mengunjungi sebuah tempat untuk memenuhi sebuah undangan. Undangan yang menurut eyangnya hanya diberikan sesekali saja untuk acara temu “kangen” teman-teman lama dan para penggemar silat.

Ara pun pergi bersama eyangnya memenuhi undangan tersebut di sebuah kota yang terkenal dengan kesejukannya, disebuah tempat yang mana terdapat sebuah lapangan dan panggung. Beberapa orang tampak saling kenal, sementara lainnya hanya sekedar menyapa tanpa terlihat mereka saling kenal. Inilah kali pertama Ara mengenal apa yang disebut sebagai “Tarung Sambat“, sebagaimana sebutan yang didengar Ara disana.

Acara ini ternyata adalah acara pertemuan dimana sejumlah orang saling tunjuk kebolehan memainkan jurus-jurus silat yang kemudian saling uji kemampuan dengan sebuah pertarungan yang seru. Berbagai aliran dilihatnya berlaga. Dari aliran silat di tanah jawa hingga aliran silat dari luar jawa. Beberapa nama aliran terdengar asing bagi telinganya saat itu.

Tapi Ara ingat salah satu pesilat yang turun laga dan memenangkan pertarungannya adalah seorang pesilat dari salah satu aliran silat betawi karena jauh dikemudian hari Ara bertemu kembali dengan wajah orang tersebut yang menjadi guru dari salah seorang kawannya dan sempat duduk sejenak berbincang-bincang dalam sebuah acara yang diadakan oleh aliran tersebut yang mana Ara ikut hadir disana. Gaya bertarungnya yang Ara bilang “agak nyamping-nyamping” sangat ampuh merubuhkan lawannya.

Ara juga melihat gaya bertarung silat dari daerah sumatera yang bisa menempel ketat pada lawannya dan merubuhkannya dengan serangan yang dasyat. Permainannya yang cepat dan indah berlangsung cukup lama tapi berakhir dengan indah sekali.

Ara begitu terpukau melihat itu semua. Nyalinya cukup ciut memikirkan kemungkinan harus menghadapi orang-orang seperti mereka. Kemampuannya dirasakan sangat jauh berbeda kelas dengan para petarung yang turun laga. Tidak ada gebuk-gebukan tak beraturan yang dilihatnya di pertarungan jalanan. Tak ada gaya bertarung seperti dilihatnya di pertandingan silat resmi. Semuanya bermain dengan indah, memukau. Kadang hanya 1-2 gerakan, kadang pertarungan berjalan agak panjang. Ada yang jatuh menggelepar tak sadarkan diri, ada yang terlihat cedera sangat parah bahkan sampai patah tulang tangannya.

Tapi satu kesan yang Ara terima adalah senyum dan tawa walaupun kalah. Bahkan ada yang kalah mengambilkan kopi bagi yang menang kemudian mendiskusikan teknik yang dipakai untuk mengalahkannya. Seakan menang kalah adalah sesuatu lelucon dan sebuah hiburan yang menyenangkan.

Untungnya tujuan sang eyang mengajak Ara kesana hanya untuk memperlihatkan para “pengguna” jurus dalam praktek yang sesungguhnya.

Akhir pertemuan Ara dengan eyangnya, sang eyang berkisah tentang teknik air dan memberikan rangkaian teknik yang menggambarkan air bergabung dengan teknik yang menggambarkan unsur bumi. Jurus yang keras disatukan dengan jurus yang lebih halus, membentuk rangkaian gerak bantingan yang dipadukan dengan serangan berupa pukulan.

Sebuah pesan terakhir, “Bahwa nanti ada saat kamu mempelajari jurus yang hanya menggunakan unsur lembut, dimana kehalusan akan sepenuhnya menguasai kekerasan dan kemampuan menghasilkan serangan ¬†dasyat dengan upaya yang lebih sedikit lagi”.
Bersambung…………..