Modernisasi Kurikulum Latihan Silat Tradisional

0

Mendengar komentar bosan dengan latihan silat tradisional, apalagi aliran yang jurusnya sangat sederhana dan membutuhkan latihan yang lebih sering ke hal yang itu itu juga adalah suatu hal yang sangat biasa didengar oleh para praktisinya.

Memang bilang kita melihat mereka para pesilat tradisional manggung biasanya demonya luar biasa mantap, penampilan aplikasinya juga menggiurkan dan tidak jarang membuat orang tertarik untuk mempelajarinya. Tapi ketika belajar, “Ih koq latihannya begini begini saja sih ?”.

Latihan beladiri dijaman sekarang sudah tidak lagi seperti jaman dulu. Sekarang banyak orang yang lebih tertarik silat sebagai olahraga, prestasi atau sekedar pelestarian budaya. Maka dari itu ketika bicara prestasi, ada yang dikenal dengan sebutan silat prestasi, latihan silat yang lebih diarahkan kepada keikut sertaan dalam pertandingan.

Diluar masalah organisasi, di dunia modern sekarang ini ada beberapa hal yang sering kali menjadi tuntutan orang ketika belajar, salah satunya adalah sampai mana kemampuan yang telah dikuasai. Karena itulah sering dibutuhkan sebuah tingkatan untuk dapat mengenal prestasi pribadi dalam belajar. Karenanya kita perlu mulai memikirkan hal-hal seperti tingkatan apapun bentuknya untuk menggambarkan prestasi seseorang sebagai sebuah bentuk pengakuan. Bisa banyak ragamnya, misalnya mendapatkan materi baru yang hanya diberikan bila sudah menguasai materi sebelumnya pun adalah sebuah pengakuan. Hanya tinggal bagaimana mengemas pengakuan tersebut agar berlaku secara general dalam organisasinya.

Selain itu terkadang kita pun harus mengubah cara berlatih bahkan menambahkan sejumlah latihan atau jurus agar seseorang bisa lebih bisa menerima bentuk latihan yang kalau menggunakan metoda tradisional cukup sulit dipahami. Ambillah contoh perguruan besar yang sudah ada sekarang, misalnya Merpati Putih ataupun Perisai Diri. Dibalik bentuk yang sekarang bisa dipastikan ada silat tradisional yang melandasi. Hanya saja mereka telah membangunnya sedemikian rupa dan berevolusi  menjadi bentuknya yang sekarang. Tentunya akan sangat banyak metoda-metoda baru yang dibuat untuk bisa mempermudah seseorang kelak di tingkatan tertentu bisa mulai mempelajari hal-hal yang sifatnya intern yang bisa jadi merupakan bentuk asli dari perguruan ini.

Pada saat membentuk metoda latihan atau bahkan jurus ini bisa dipastikan akan terjadi banyak pertentangan. Setuju dan tidak setuju. Yang ingin mempertahankan bentuk tradisionalnya dan yang ingin mengembangkan sayapnya. Tentu harus banyak kebijaksanaan untuk bisa mengambil sebuah keputusan.

Saya ingin mengambil contoh misalnya sebuah aliran silat yang dasarnya harus mengasai satu jurus yang walaupun sederhana tapi sulit dipahami. Ketika membangun sebuah kurikulum tentunya materi yang sulit ini harus di buat lebih membumi agar lebih mudah dipahami. Mungkin waktu yang dibutuhkan akan menjadi jauh lebih lama dibandingkan yang mengambil jalur tradisional. Tapi bila bicara ekspansi perguruan, tentunya akan bisa berbanding terbalik dengan jumlah orang yang berminat mempelajarinya secara berkelanjutan.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah silat prestasi. Bicara silat prestasi berarti kita bicara pertandingan dan bicara pertandingan tentunya akan bicara juga tentang peraturan pertandingan yang dibuat oleh organisasi yang berhak membakukannya. Dalam hal ini adalah IPSI.

Kenapa hal ini perlu dipertimbangkan ? Untuk masuk dalam pertandingan, peraturan yang ada sangat membatasi teknik yang bisa digunakan. Mereka yang biasanya main tangkap banting tidak bisa menggunakan seluruh tekniknya. Aliran yang tidak memiliki teknik tendangan mungkin harus mengadakannya. Disatu sisi yang terjadi dengan adanya peraturan yang sangat ketat, tanpa disadari bisa terjadi  “penyeragaman bentuk” latihan.

Mari bandingkan pertandingan silat di tahun 70-80an. Pada masa itu dengan melihat pesilat bertanding secara umum biasanya orang bisa menebak datang dari aliran manakah orang yang bertanding, tanpa harus melihat sikap pasang yang dilakukan sebelum mulai dengan serangan-serangan. Gaya bergerak khas dari perguruan masing-masing biasanya masih bisa terlihat, misalnya para pesilat dari Perisai Diri masih terlihat dengan gaya loncatannya yang khas dan lincah di sepanjang pertandingan. Memang tidak semua, tapi biasanya itulah yang terlihat.

Sementara yang terjadi sekarang ini adalah bisa dibilang semuanya sama. Cobalah kalau mereka disuruh menggunakan pakaian pertandingan yang sama, tanpa logo perguruan, tanpa adanya pengumuman dari perguruan mana yang sedang bertanding, apakah anda bisa menebaknya ? Saya yakin anda akan kesulitan membedakannya di mayoritas pertandingan.

Mengapa bisa begitu ? Salah satunya mungkin karena mengarahkan pesilat demi mendapatkan nilai maka dibuatlah latihan yang bertujuan untuk mendapatkan nilai. Dan karena bentuk peraturannya maka bukan sesuatu yang mustahil menciptakan efek penciptaan teknik dan cara latihan yang sama secara global dan akhirnya kita tidak lagi bisa melihat ciri aliran dibawa di lapangan pertandingan.

Babe Bambang TB dari Silat Cingkrik Goning pun beberapa waktu lalu pernah mencoba menggunakan peraturan pertandingan untuk bertarung dalam sebuah diskusi bersama, saya salah satunya yang ada disana. Yang terjadi jelas babe kalah telak. Bukan karena kurang jago, Tapi jagonya kelewatan sampai-sampai kena diskualifikasi. Kalau refleknya sudah keluar parah deh. Main samber tangan (yang jelas dilarang di peraturan), tarik kepala (lagi lagi tidak boleh di peraturan), lalu di pelintir sampai terlempar (udah 3 tuh salah dalam sekali teknik), belum lagi yang main jambak dan gerakan yang menentang sendi (bentuk-bentuk teknik patahan).

Komentar akhirnya adalah, “Terus gue bisa pake teknik apaan dong. Gini gak boleh gitu ngak boleh”.

Sedikit kisah nyata diatas bisa memperlihatkan kesulitan seorang pesilat tradisional mengikuti keharusan mengikuti peraturan pertandingan. Yang pasti teknik pilihannya yang dimainkannya saat itu tidak ada satupun yang bisa diterima secara peraturan pertandingan. Babe Bambang tidak sendirian. Masih ada banyak sekali pesilat tradisional yang bisa dipastikan akan mengalami nasib yang sama karena ketidak biasaan mengikuti peraturan pertandingan, misalnya silat Paseban-nya om Galih Iman yang banyak main dibawah,

Maka dari itu untuk membentuk suatu pola latihan yang baru, tentunya kita harus memperhitungkan hal ini. Entah memasukan juga adanya materi pertandingan untuk satu kelompok dan kelompok lain khusus untuk silat tradisional, atau meniadakan keikut sertaan dalam pertandingan dan hanya bermain dengan perubahan materi agar bisa lebih diterima oleh masyarakat saat ini. Penentuan bidang spesialisasi untuk hal ini sangat perlu dilakukan.

Tentunya masih banyak lagi hal lain yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan masak-masak agar sebuah aliran bisa membangun sebuah perguruan dan mulai mengembangkan sayapnya lebih lebar lagi dan bisa lebih diminati oleh masyarakat umum di masa sekarang ini. Tapi yang pasti semoga dengan pengembangan ciri asli dari silatnya tidak akan pernah hilang dan tentunya akan tetap dilestarikan pula bentuk aslinya.