Jemparingan Mataram Gaya Yogyakarta

0

Bergaya tenang, dan elegan. Jemparingan Mataram gaya yogyakarta tak hanya soal olah raga namun juga soal olah rasa.

Jemparingan adalah seni memanah tradisional khas gaya Mataram. Seni memanah ini pada beberapa tahun belakangan mulai marak di kalangan masyarakat Yogyakarta sejalan dengan kesadaran masyarakatnya untuk melestarikan budaya warisan leluhur.

Seni memanah tradisional ini sangat unik karena masih mempertahankan tata cara dan budaya tradisional dalam peraturannya.  Berawal dari tradisi yang dibawa dari prajurit keraton, saat ini sudah mulai bermunculan kelompok – kelompok pelestari Jemparingan. Secara berkala kelompok – kelompok ini melakukan latihan bersama, selain itu juga sering diadakan kompetisi yang diadakan secara rutin dengan didukung oleh pemerintah DIY.

Sambil duduk bersila, melihat dan memilih dengan cermat anak panah yang akan diluncurkan. Anak panah harus benar-benar lurus sehingga stabil saat meluncur dari busur. Setelah itu, tegakkan busur di atas tanah dan mata siap membidik sasaran tembak. Para pemanah duduk bersila gaya mataraman, sangat berbeda dengan pada umumnya biasa melakukan dengan posisi berdiri.

Jemparingan mensyaratkan busur yang baik. Busur yang baik itu dapat melengkung penuh dengan sempurna. Busur tersebut mampu membuat anak panah meluncur dengan kekuatan serta jangkauan terbaik. Demikina juga dengan anak panah, harus benar-benar kuat saat menerima tekanan hebat dari tali busur. Jika tidak, anak panah hanya akan patah karena tekanan. Di balik itu semua, juga ada sang pemanah yang berperan penuh mengendalikan busur dan anak apanah. Bukan hanya soal memiliki konsentrasi dan kekuatan, tetapi seorang pemanah juga perlu memiliki keahlian agar bisa memanah tepat sasaran. Meski bersila, posisi tubuh tetap harus tegak. Tangan kiri lurus memegang busur. Sementara posisi siku kanan sejajar bahu. Ngeker ke arah sasaran tembak. Untuk jarak rentang 30 meter, posisi jari tengah tangan kanan berada di dekat hidung. Jarak 40 meter, di dekat ujung bibir. Lalu jarak 50 meter, di dagu samping.

Bandulan atau sasaran untuk memanah merupakan irisan serabut bambu yang diikat menjadi satu. Ada tiga bandulan dengan panjang kira-kira 40 cm. Secara keseluran bandulan di cat putih dan sedikit bagian ujung atasnya dicat merah. Di belakang bandulan, sudah ada lembaran karpet karet tebal yang berfungsi untuk menahan anak panah yang meleset.

Jemparingan Mataram diakui oleh pelakunya sebagai olah raga dan olah budaya yang  tidak hanya sehat, namun juga membantu meningkatkan daya konsentrasi. Fokus adalah kesulitan sekaligus tantangannya.  Jemparingan Jawi Mataram merupakan tradisi yang harus dijaga kelestariannya. Jangan sampai, kesenian yang mengandung olahraga dan seni ini memang sangat istimewa. Bayangkan saja, melakukan satu kegiatan dengan menggunakan olah rasa dan olahraga.

Penasaran? Anda akandapat temui dan pelajari Jemparingan Mataram di Wisata Pencak Nusantara