Bhinneka Tunggal Sakti Mataram

1
Bpk Noerwidiartono A.S, Guru Besar dan Pendiri Bhineka Tunggal Sakti Mataram

Bhinneka Tunggal Sakti (BTS) Mataram, suatu perguruan pencak silat dari Yogyakarta. BTS didirikan pada tahun 1966 oleh Bpk Noerwidiartono A.S atau yang lebih dikenal dengan Pakdhe Noer. Pada saat mendirikan BTS, Pakdhe Noer masih berusia 16 tahun. Usia tersebut adalah usia yang sangat muda untuk  mendirikan dan mengembangkan sebuah Perguruan Silat.  Sejak kecil, Pakdhe Noer sudah diajarkan dasar-dasar pencak silat oleh orang tuanya.

Awal beliau mengenal pencak silat bukan dari aspek beladiri akan tetapi seni karena sejak kecil sudah dititipkan di Tedjokusuman untuk belajar seni tari bersama Gusti Tedjokusuman. Dalam mengembangkan BTS, Pakdhe Noer sendiri yang mengasuh murid-muridnya serta menciptakan lambang perguruan. Lambang dari BTS sudah ada sebelum organisasi dalam BTS terlahir.

Arti lambang perguruan tersebut tidak hanya menyiratkan unsur beladiri, tetapi dalam hakikatnya tidak ada kesempurnaan, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Selain itu terkandung pula arti hubungan anggota dengan Tuhan, Negara, sesama anggota, organisasi. Seorang pesilat harus berjiwa ksatria dalam menggunakan ilmu beladiri. Sedangkan nama BTS, memiliki arti kesatuan dari berbagai ilmu yang pernah didapat Pakdhe Noer. Gerak jurus dan aplikasi lainnya adalah penggabungan ilmu pencak silat dari berbagai aliran, karena saat kecil Pakdhe Noer belajar dengan Eyang Harimurti bersama murid-murid lainnya yaitu Eyang Joyo, Eyang Sukowinandi, Eyang Barjo. Ketika para murid tersebut merantau, Pakdhe Noer sendiri mendalami ilmu silat lainnya dari aliran yang ada di Jawa Barat, Bali dan beberapa daerah lainnya. Meskipun banyak aliran dalam keilmuan BTS , akan tetapi aliran yang paling dominan adalah Mataraman yang pertama kali beliau peroleh dari Eyang Harimurti dan keluarga beliau. BTS berkembang pesat di daerah hingga menyebar di Jawa Timur, Jambi dan Kalimantan. Seiring dengan kemajuannya, BTS tersebar pula di Malaysia dan Thailand.

Pakdhe Noer sedang membenarkan bentuk jurus anak didiknya

Dalam kesehariannya Pakdhe Noer tidak lepas dari pencak silat. Beliau selalu mengawasi murid-muridnya berlatih pencak silat. Padepokan BTS terletak di kediaman Pakdhe Noer. Pakdhe Noer mempunyai kesenangan yang sangat unik, yaitu mengoleksi batu akik. Beliau menyukai batu akik karena merupakan batu tua yang mempunyai dokumen alam yang dapat membantu melatih olah rasa dalam pencak silat. Selain itu, tongkat juga dikoleksi oleh Pakdhe Noer sebagai persenjataan dalam berlatih di BTS. Tongkat-tongkat tersebut mulai dikumpulkan sejak mengikuti Kepanduan. Tidak hanya tongkat, masih ada senjata khas lain yang digunakan diantaranya senjata lempar dengan jarum, pisau, pedang, trisula dan tongkat berkait (tukik).

 

Tidak beda dengan perguruan atau beladiri lain, tingkat keilmuan BTS dilambangkan dengan warna sabuk. Berikut tingkatan sabuk pada BTS Mataram:

  1. Putih
  2. Hijau
  3. Kuning
  4. Abu-abu
  5. Biru
  6. Hitam
  7. Sabuk Guru

 

Pencak Silat sebagai budaya Indonesia memang terkenal dengan keanekaragamannya. Menurut Pakdhe Noer, perkembangan pencak silat sangat maju. Beladiri nusantara itu sudah berkembang di sekolah-sekolah sampai perguruan tinggi. Namun ironis, generasi muda banyak yg tidak mengenal pencak silat sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan.

Bagi anda yang ingin bergabung dengan Bhinneka Tunggal Sakti Mataram dapat datang langsung ke :

JL. Prapanca no.11

Gedong Kiwo, Yogyakarta

atau menghubungi Mas Awan di : 085643349588 – 081322554316

 

Murid Murid Bhinneka Tunggal Sakti Mataram dalam formasi jurus tongkat