HUT ke 60 PS BIMA; Laku Kirab “pala kesimpar” PS BIMA

0

Release
HUT ke 60 PS BIMA;
Laku Kirab “pala kesimpar” PS BIMA

Logo Perguruan Silat Bima
Logo Perguruan Silat Bima

BIMA, yang merupakan akronim dari Budaya Indonesia Mataram adalah perguruan silat yang lahir dan berdiri di kampung Kumetiran Yogyakarta enampuluh tahun yang lalu (8 February 1953).
Pada usianya yang ke enampuluh tahun ini, BIMA relatif masih tetap eksis. Meski jumlah murid tak sampai puluhan ribu, namun relatif jumlah murid terus bertambah, terbagi dari berbagai cabang yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan rantingnya, maupun yang ada di luar kota, seperti Klaten, Tuban, Cirebon, Magelang.
Pada kesempatan peringatan HUT ke 60 BIMA ini, peringatan diadakan dengan lebih sederhana. Kesederhanaan tersebut lebih ditekankan pada kesadaran akan kembalinya genealogi keilmuan, yang bersumber pada almarhum Guru Besar, yakni Bpak R. Brotosoetarjo.

***

Almarhum R. Brotosoetarjo sendiri dalam perjalanan kesiswaannya berlatih pada tiga guru bergantian ; Kyai Marzuki (pencak stroom), Yap Kie San (siaw liem sie) dan Ki Parto Sarjono (kun taow). Atas akumulai keilmuan tersebut Brotosoetarjo pada tahun 1953 mendirikan perguruannya sendiri, yaitu BIMA (Budaya Indonesia Mataram). Setelah almarhum meninggal (10 November 1973) kepemimpinan BIMA pun beralih kepada puteranya, yakni bapak RYU Harry Brotosutaryo.
Nama BIMA, kecuali identifikasi tokoh pewayangan Bima (nama lain Werkodara, Brotoseno – tokoh panengah Pandawa) yang mungkin menjadi landasan spirit keperwiraan ilmu silatnya, juga merupakan akronim yang merujuk pada geografi di mana keilmuan silat dirakit dan dlahirkan ; Budaya Indonesia (Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat).
Dalam ulang tahunnya yang ke 60, dengan tema “Kesederhanaan dalam Keistimewaan” BIMA memperingati ulangtahuannya tanpa perayaan, melainkan lebih sebagai kegiatan meditatif dalam beberapa rangkaian acara ; (1) tirakatan (7 Feb 2013 di pusat perguruan Kampung Kumetiran Kidul, Yogyaarta), (2) Ziarah ke makam Guru Besar (8 Feb 2013, Kepuh, Yogyakarta) dan “Laku Kirab Panji Bima” (3) – (9 Feb 2013 – pk 19.00-selesai ; dari perguruan Pusat ke makam Guru Besar)
Kegiatan meditatif melalui kirab itu sendiri, menurut Whanny Darmawan, budayawan penulis buku “Andai Aku Seorang Pesilat” yang juga salah satu murid BIMA, sinergi dengan tema “kesederhanaan dalam keistimewaan” kirab diam memberikan arti pelatihan pengendalian diri. Manusia yang menyadari kelebihan kekuatannya, bersedia mengalah apabila dibutuhkan. Ibarat ubi cilembu – jenis pala kesimpar – yang hidup di bawah dan tersampar kaki tetapi mampu memberikan makna kekuatan dan kesejahteraan bagi kehidupan. Dengan laku kirab ini BIMA hendak meneguhkan laku spiritual Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat yang mengkristal dalam BIMA.
Route yang akan ditempuh dalam laku kirab tersebut terencana sebagai berikut ; Jl. Kumetiran Kidul, Jl Jogonegaran, Jl. Pasar Kembang, Jl. Gandekan Lor, Jl. Abu Bakar Ali, Jl Ahmad Jajuli (jembatan Kewek), Jl. Yos Sudarso, Kridosono, Jl. Wardhani, Jl. Trimo, UKDW, Jl. Kusbini, Jl. Langensari (Pengok), Jl. Kemakmuran, Jl Urip Sumoharjo, Jl. Iromejan, Makam Kepuh, Jl. Iromejan, Jl. Urip Sumoharjo, Jl. Jenderal Sudirman, Jl. P. Mangkubumi, Jl. Gowongan Kidul, Jl. Bumijo Tengah, Jl. Tentara Pelajar, Jl. Tentara Rakyat Mataram, Jl. Jlagran, Kumetiran Kidul.

Cp ;
Ketua Panitia HUT 60 BIMA ; Ludyarto Bimasena Wibowo (08156855824)