Apakah Pencak Silat Harus Menggunakan Kembangan ?

3

APAKAH PENCAK SILAT HARUS MENGGUNAKAN KEMBANGAN?

Silat Sitaralak
Silat Sitaralak

Beberapa waktu ini publik ‘dikejutkan’ dengan adanya film ber-genre action mengusung Pencak Silat yang terbilang cukup sukses di pasaran. Adanya film Merantau yang dilanjutkan dengan film The Raid cukup menghentak jagad dunia perfilman. Namun demikian, dalam beberapa kali saya berinteraksi dengan khususnya kalangan generasi muda, ada komentar yang cukup ‘menggelitik’ buat saya. Komentar tersebut adalah: “emang itu silat ya, kok silat berantemnya ga pake kembangan sih?”

Nah mengenai kembangan ini merupakan topik yang menarik, karena suka tidak suka, faktanya di mata umum, silat itu identik dengan kembangan. Pertanyaan yang kemudian mengusik kita adalah: apakah pencak silat harus menggunakan kembangan? Apakah ketika tidak menggunakan kembangan itu tidak bisa disebut pencak silat?

Pertama-tama yang harus kita sepakati dulu adalah mengenai apakah kembangan itu sendiri. Ada banyak definisi mengenai kembangan ini, tapi intinya dalam perspektif yang umum, kembangan bisa diartikan sebagai gerakan yang ditata sedemikian rupa dalam bentuk seni, seperti sebuah tarian, yang digunakan dalam pementasan pencak silat. Kira-kira begitulah definisi yang umum ada dalam benak masyarakat.

Nah mengenai kembangan ini, kemudian muncul lagi pembahasan yang lebih dalam, apakah kembangan itu merupakan suplemen, ataukah sesuatu yang ditambahkan pada jurus inti, ataukah kembangan ini hanya bersifat pemanis saja untuk kepentingan pementasan silat yang bersifat seni?

Dalam perspektif saya pribadi, tidak ada gerakan ataupun metode latihan silat yang tidak berguna atau sia-sia belaka, bahkan lebih ‘ekstrim’ lagi, saya berpendapat bahwa meskipun kembangan memang memiliki nilai seni artistik akan tetapi kembangan sendiri tidak dicptakan semata-mata hanya sebagai fungsi seni artistik semata. Karena jika kembangan dalam silat hanya difungsikan untuk kebutuhan seni artisitik dan estetika semata, apa bedanya degan tarian tradisional lainnya.

Memang antara tiap daerah, antara tiap aliran silat ada perbedaan pengertian ataupun perbedaan fungsi mengenai kembangan ini, akan tetapi buat saya tetap berpendapat bahwa kembangan ini didesain untuk fungsi awal dari silat itu sendiri, yaitu berhubungan dengan aspek beladiri.

Pada beberapa aliran tidak membedakan mana kembangan mana jurus inti, karena dalam aliran yang dimaksud kembangan itu sendiri diambil dari jurus inti.

Sekarang saya akan coba membahas dengan mengambil sampel beberapa aliran silat untuk membahas mengenai masalah kembangan ini.

Dalam silat sunda dikenal adanya ‘ibingan’ atau ‘igelan’, secara harfiah kosakata tersebut mengandung pengertian sebagai ‘tarian’. Dalam definisi secara harfiah tersebut jangan disalahkaprahkan dengan menyamakannya dengan tarian tradisional lainnya. Ketika bicara ‘ibingan’ atau ‘igelan’ di sini, maka konteksnya akan mengacu pada Silat/beladiri.

Di tatar Sunda materi ibingan ini ada yang diberikan ketika murid sudah sampai tahap tertentu, ada yang diberikan di akhir materi pelajaran, dan ada yang diberikan malah di awal pelajaran.

Nah kembali ke soal pertanyaan apakah ibingan ini merupakan ‘tempelan’, ‘supleman’ atau hanya fungsi pelengkap sebagai fungsi seni dan estetika saja?

Gerakan pada ibingan ini sebetulnya tidak akan jauh-jauh dari jurus dasarnya, dan tidak akan mungkin ibingan ini keluar dari pakem dan konsep dari aliran tersebut. Jadinya ibingan ini sebetulnya bukan merupakan materi pelengkap fungsi seni dan estetika saja.

Ketika pesilat melakukan ibingan, maka sebenarnya sudah merupakan latihan yang spesifik, melatih olah fisik dan olah rasa sekaligus. Dalam melakukan ibingan, kita dituntut untuk memainkan gerakan sesuai pakem dan konsep, dengan diiringi iringan musik. Nah , disini unsur penjiwaan begitu kental, bagaimana ‘merasakan’ dan ‘menikmati’ setiap gerakan yang dilakukan dan harus sesuai dengan iringan musik.

Saat melatih ibingan , kita juga melatih ketukan, melatih irama dan tempo gerakan. Di sini juga kita melatih pengaliran tenaga dan juga ‘generate power’, kapan harus keras, kapan harus lembut, kapan harus cepat dan kapan harus lambat.

Bahkan dalam gerakan ibingan yang mungkin di mata awam hanya terlihat seperti menari-nari saja, itu sebetulnya terkandung materi gerakan yang bisa diaplikasikan dalam perkelahian (-perkelahian di sini tentunya dalam konteks membela diri). Dalam suatu posisi tertentu dalam sebuah ibingan, sebetulnya itu melatih postur, cara berdiri dan bergerak, serta penempatan bobot-titik keseimbangan, kalau dalam konsep Silat Sunda, termasuk di dalamnya “konsep kosong-isi’.

Dalam melangkah pun diperhitungkan hitungannya, disesuaikan dengan Irama iringan musiknya. Nah di sini juga terkandung pelajaran bagaimana melangkah. Ketika masuk dalam pelajaran bagaimana cara melangkah artinya ini berkaitan degan materi bagaiman menempatkan posisi yang aman bila bila berhadapan dengan lawan, di sini juga maka akan berhubungan dengan mengenal “konsep sudut hidup dan sudut mati dari lawan dan juga diri kita sendiri”.

Kemudian dalam ibingan tentunya iringan musiknya pun tidak akan sembarangan, ada pakem-pakem tertentu, ada irama tertentu dan ada alat musik tertentu yang tiap daerah akan berbeda. Dengan adaya musik pengiring ini, secara psikologis ini akan membangkitkan spirit/semangat si pesilat. Pada beberapa aliran malah ada yang menjadikan gerakan ibingan yang diiringi musik tertentu seperti sebuah meditasi berjalan. Jadinya berhubungan juga dengan konsep penerapan psikologis dalam pertarungan. Secara otomatis ketika melakukan ibingan berkaitan degan pembentukan karakter psikologis sebagaimana ‘diinginkan’ oleh jurus tersebut. Ada yang memang penjiwaannya harus terlihat keras dan ‘garang’, ada juga yang sebaliknya malah harus terlihat sangat santai.

Pada ibingan yang menuntut penjiwaan yang mengesankan keras, artinya si pesilat dididik untuk bisa memainkan psikologisnya menjadi berani, tangguh, dsb. Sedangkan dalam ibingan yang menuntut penjiwaan santai ataupun yang bentuknya seperti sebuah meditasi berjalan, si pesilat dididik untuk bisa mencapai ‘titik kosong’, ketenangan, ‘konsep leuleus/lemes’, dsb. Artinya dalam melakukan sebuah ibingan dituntut juga untuk mengatur napas dengan baik, jadi di sini berhubungan juga dengan aspek melatih mengatur pernapasan.

Dalam pertarungan, aspek psikologis apapun itu amat lah penting. Bagaimana bisa melakukan pembelaan diri jika kita sendiri tidak bisa mengontrol sisi psikologis diri kita sendiri. Dengan menguasai mental, dengan menguasa psikologis, maka di atas kertas ibaratnya kita sudah memenangkan satu ronde. Demikian juga dengan pengaturan napas karena dalam setiap aktivitas fisik dibutuhkan pengaturan napas yang bagus.

Bicara mengenai ibingan, saya juga akan ambil contoh rumpun Betawi. Pada silat Betawi umumnya tidak dikenal adanya kembangan dalam pengertian ibingan. Silat Betawi itu pada umumnya tidak memiliki bentuk ibingan degan diiringi iringan musik khusus. Metode latihannya adalah langsung mengacu pada jurus. Semua aplikasi baik itu pukulan, tendangan, bantingan, kuncian, pergumulan, serangan, belaan, kesemuanya itu berdasarkan pada jurus dasar/jurus inti.

Banyak masyarakat awam ketika menyaksikan pentas atraksi silat betawi, menganggap bahwa apa yang diperagakan itu adalah kembangan dalam pengertian ibingan, atau dengan kata lain sekedar rangkaian gerak seni artistik yang memiliki fungsi estetika. Padahal gerakan yang ditampilkan di panggung pun itu sebetulnya adalah gabungan dari jurus-jurus dasar yang dimainkan sedemikan rupa supaya indah dipandang. Kalau kita bedah jurus-jurus yang dipentaskan maka tidak akan beda dengan jurus-jurus dasarnya, dan itu memiliki aplikasi yang juga mematikan.

Pertanyaan berikutnya adalah: Apakah dalam pertarungan/perkelahian nyata harus menggunakan kembangan?

Seperti kita bahas sebelumnya bahwa ada aliran silat yang memiliki bentuk kembangan berupa ibingan dan ada juga yang tidak.

Kita bahas misalnya dalam perspektif aliran silat yang memiliki bentuk kembangan berupa ibingan. Dalam perkelahian nyata yang digunakan itu bukanlah kembangannya ataupun jurus-jurusnya, tapi yang digunakan adalah aplikasi dan hasil dari latihan dengan menggunakan kembangan atau jurus-jurusnya tersebut.

Jadi dalam aplikasi perkelahian nyata, tidak ada sikap pasang tertentu, tidak ada kembangan tertentu, bahkan tidak ada jurus yang secara saklek digunakan. Yang terjadi adalah, kita menggunakan hasil dari latihan yang selama ini kita latih dengan menggunakan media jurus-jurus, latihan kembangan, latihan ibingan, penempaan, dan sebagainya.

Kalau boleh saya membandingkan berbicara kembangan sebagai metode pelatihan, saya akan coba bandingkan dengan olahraga sepakbola. Ketika kita nonton pertandingan sepakbola, maka yang kita lihat adalah aplikasi dari hasil latihan. Coba kita tengok Sekolah Sepakbola/ SSB, ada banyak metode pelatihan sepakbola mulai dari tingkat pengenalan, tingkat dasar, hingga tingkat mahir dan layak untuk ‘mengaplikasikannya’ di lapangan hijau. Dalam pelatihan sepakbola bisa kita lihat berbagai metode penempaan seperti push up, sit up, dll. Kita juga bisa melihat adanya metode pelatihan untuk melatih keahlian menggocek/menggiring bola, misalnya latihan juggling bola dengan kaki dan kepala, ada juga latihan berbagai varian men-drible bola, jalan jongkok, dll. Kita tidak akan menemukan bentuk-bentuk metode latihan dilakukan secara saklek/mentah-mentah di lapangan hijau. Tidak akan kita temukan misalnya dalam pertandingan sepakbola tiba-tiba kipper melakuan push up dan sit up sambil menjaga gawang, kita juga tidak akan menemukan seorang striker melakukan berbagai variasi juggling bola ketika dalam pertandingan, kita juga tidak akan menemukan seorang pemain bola melakukan jalan jongkok ketika sedang bermain bola.

Analogi seperti itu juga lah yang terjadi pada Pencak Silat. Dalam latihannya ada berbagai metode, seperti melakukan jurus, penempaan, melakukan ibingan, dll. Akan tetapi dalam aplikasi kita tidak lagi menemukan bentuk yang persis sama seperti pada metode latihan tersebut.

Kembangan, ibingan, jurus itu adalah sarana/media dan metode latihan untuk kita memahami esensi dari aliran silat yang sedang dipelajari.