Warok Cilik dan Krida Yudha Sinalika

1

IMG_9410” Mas lagi sibuk gak minggu depan…? minggu depan ada acara budaya Grebeg Gule dan anak – anakku rencananya mau ikut serta memberikan penampilan di acara itu kalo bisa dateng ya mas… “

Sebuah pesan singkat masuk di kirim oleh seorang sahabat lama, Mas Dimas Samiadji sang Mpu Anom Cakraningrat, pemangku Perguruan Krida Yudha Sinalika. Mas Dimas sudah hampir setahun ini pindah ke Magelang dari Ibu Kota Jakarta. Selama di Magelang diam – diam beliau mengembangkan Krida Yudha Sinalika mulai dari anak – anak kecil di lingkungan sekitar rumahnya. Dalam beberapa kali pertemuan ketika Mas Dimas singgah ke Jogja beliau selalu menceritakan dengan bersemangat perkembangan anak didiknya, bahkan pada saat Pawai Pencak Malioboro Festival yang lalu semua anak didiknya diajak ikut serta kirab dan melakukan pertunjukkan sepanjang Malioboro.

Beberapa kali saya dan teman – teman berkunjung ke rumah Mas Dimas di Magelang tapi belum pernah sekalipun kami melihat dari dekat aktifitas anak – anak didik KYS, beberapa kali pula kami membuat janji untuk mendokumentasikan latihan mereka tapi lagi – lagi karena kesibukan janji tersebut belum pernah terpenuhi. Oleh karenanya saya berusaha agar kesempatan ini bisa hadir, selain itu juga saya tertarik dengan nama acaranya “Grebeg Gule”.

Kamis 17 Oktober 2013 bersama Aris saya meluncur dari Yogyakarta menuju Magelang. Setelah menempuh 1 jam perjalanan dengan menggunakan motor akhirnya kami sampai di rumah Mas Dimas, waktu menunjukkan pukul 14.30 saat kami sampai disana. Setelah berbincang – bincang sambil istirahat sejenak melepas lelah kami diajak Mas Dimas untuk melihat murid – murid KYS yang sedang di rias untuk pertunjukkan nanti. Anak – anak itu di rias dengan dandanan sebagai warok – warok kecil, sangat lucu melihat anak – anak itu. Cemeti kecil diselipkan di kain mereka, iket kepala di sematkan di kepala mereka dengan gaya iketan yang khas. Muka mereka pun di hias dengan ornamen – ornamen khas tradisional yang terlihat sangat lucu, belum lagi hiasan kalung yang terbuat dari krupuk slondok bulat – bulat kecil membuat anak – anak itu terlihat makin menggemaskan.

Tentu saja saya dan Aris tidak melewatkan kesempatan, kami segera mengeluarkan kamera dan mulai mendokumentasikan warok – warok cilik yang sedang di rias ini. melihat kamera yang dikeluarkan beberapa dari mereka mulai bergaya dengan berkeliling dengan dandanan lucunya. Pukul 14.45 Mas Dimas kemudian mengajak kami beserta rombongan untuk bergegas menuju lapangan kecil tempat di mana acara akan di adakan.

Grebeg Gule adalah tradisi turun temurun warga Cacaban, Magelang. Tradisi yang telah dilakukan sejak puluhan tahun tersebut adalah sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh pendiri Kelurahan Cacaban, Kyai Tuk Songo serta rasa syukur kepada Sang Pencipta. Hal ini di lambangkan dengan sebuah gunungan besar hasil bumi dan satu buah kuali berisi gulai kambing yang di tandu berjalan kaki menuju makam Kyai Tuk Songo. Di sana kemudian gunungan beserta gulai tersebut akan di doakan oleh penjaga makam dan kemudian dibagikan kepada masyarakat yang datang saat prosesi tersebut.

Acara Grebeg Gule dimulai di sebuah lapangan kecil tidak jauh dari rumah Mas Dimas. Acara ini dibuka dengan penampilan para warok cilik murid – murid perguruan Krida Yudha Sinalika mereka bergerak lincah membentuk berbagai formasi barisan, menari dengan penuh semangat mengikuti irama kendang. Pertunjukkan itu diakhiri dengan formasi penghormatan kepada Walikota Magelang.

Setelah pembukaan dan sambutan oleh Walikota Magelang di mulailah prosesi membawa gunungan dan gulai ke makam Kyai Tuk Songo. Sepanjang jalan para warok kecil tak pernah sekalipun mengeluh walaupun saat itu cuaca sangat panas, mereka tak berhenti menari dan tertawa riang, musik pun terus dimainkan menambah semangat dan keceriaan.

Melalui perumahan para penduduk kemudian kami di sambut oleh jajaran sawah luas yang sangat indah. Komplek makam Kyai Tuk Songo berada di tengah – tengah hamparan sawah hijau tersebut. Satu per satu mulai dari juru kunci makam, gunungan kemudian barisan masyarakat turun meniti sawah menuju makam, sedangkan rombongan warok cilik Krida Yudha Sinalika kemudian mencari lokasi untuk pertunjukkan silat dan warokan.

Sejenak saya mengikuti rombongan yang menuju makam untuk mengambil sedikit dokumentasi iring – iringan prosesi kemudian saya berlari meninggalkan rombongan itu untuk mendokumentasikan para warok cilik. Dari jauh sudah terdengar sayup – sayup musik mulai dimainkan, saya pun menambah kecepatan lari saya supaya tidak kehilangan moment.

Sesampainya di lokasi terlihat para warok cilik itu sudah mulai formasi pembukaan, kemudian mereka duduk membuat lingkaran, satu persatu maju ke tengah lingkaran dengan lincahnya menari dan memperagakan jurus – jurus Krida Yudha Sinalika yang sudah mereka pelajari selama ini, pertunjukkan ini juga diselingi oleh atraksi pencak dari murid – murid perempuan.

Tak pernah berhenti senyum saya terkembang melihat murid – murid Mas Dimas ini. Enam belas orang anak mulai dari usia Balita semua bergerak dengan penuh kecintaan terhadap budaya yang diajarkan kepada mereka. Akhirnya saya mengerti kenapa Mas Dimas sangat bahagia sekali pindah ke Magelang walaupun harus meninggalkan Ibu Kota beserta posisinya sebagai pegawai kantor besar dengan penghasilan tetap.

Selamat kepada Mas Dimas yang telah berhasil mendidik anak – anak kecil ini untuk mencintai budaya warisan mereka, dan telah berhasil membuat inovasi agar masyarakat dapat jatuh cinta tanpa di paksa terhadap budaya pencak. Jangan pernah berhenti berinovasi dan berusaha agar anak cucu kita bisa dapat terus mewarisi kearifan lokal ini. Semoga semangat ini dapat menjadi contoh dan menular….

Salam…