Rd. Obing Ibrahim tokoh maenpo dari Kaum

0

gan obingSeperti kita ketahui aliran cikalong yang kita kenal sekarang merupakan hasil karya yang sangat adiluhung, yang merupakan sebuah kreasi dari tokoh tokoh jenius yang sangat mendalami dan memahami maenpo sebagai salah satu budaya dan keahlian dalam melakukan beladiri.

dari semua penerus aliran cikalong, paling tidak ada 4 tokoh yang sangat berpengaruh pada perkembangan aliran ini, tokoh tokoh itu adalah:

 

  • Rd. Abad, yang mengembangkan jurus 30 dengan 27 Jurus kajadian dan 3 Jurus maksud
  • Rd. U. Soleh (Gan Uweh), yang mengembangkan 10 Jurus, 3 Pancer dan Jurus 7 serta masagikeun
  • Rd. Didi (Gan Didi), yang mengembangkan 13 Jurus dengan beberapa pola langkah
  • Rd. Obing Ibrahim (Gan Obing), yang mengembangkan 5 adegan serong/jalan serong

 

meski pada kenyataannya masing – masing tokoh penerus ini bersumberkan pada aliran cikalong, tetapi pada kenyataannya tidak ada satu pun yang bisa dianggap sebagai bentuk paling asli dari cikalong. karena pada kenyataanya aliran cikalong sendiri sudah di pengaruhi dengan aliran yang di kembangkan di cianjur khususnya aliran sabandar. sehingga kita mengenal istilah kari (tenaga kari-untuk menyerang), Madi (tenaga Bendung) yang merupakan ilmu yang bisa jadi didapat oleh H. Ibrahim ketika belajar pada kedua tokoh ini di betawi yang menyusun sistem cikalong sebelumnya. dan yang terbaru adalah sabandar (mengalirkan tenaga lawan) yang pada saat itu merupakan aliran yang juga berkembang di cianjur.

Pengaruh sabandar pada cikalong tidak bisa di pungkiri lagi, meski mungkin di beberapa aliran cikalong hanya berbentuk pengendalian tenaga yang lebih dikenal tenaga sabandar tetapi prinsip sabandar sudah juga berasimilasi dengan cikalong.

Masuknya pengaruh sabandar di cikalong sepertinya dimulai dengan belajarnya murid generasi pertama cikalong ke mama kosim (sang maestro sabandar). salah satu tokoh cikalong yang belajar juga pada Mama kosim adalah Rd. Enoh.

Langkah Rd. Enoh ini diikuti pula oleh Muridnya yaitu Rd. Obing, yang kala itu sedang menimba ilmu Cikalong kepada Rd. Enoh. Sempat dikisahkan ketika Rd. Obing sedang berlatih dengan Rd. Enoh, Rd. H. Ibrahim sempat mengamati dan melihat bakat yang dimiliki oleh Rd. Obing ini. Sehingga pada akhir latihan disampaikan oleh Rd. Ibrahim kepada Rd. Enoh bahwa setelah selesai berlatih pada Rd. Enoh, Rd. Obing diminta melanjutkan pelajaran silatnya pada Rd. H. Ibrahim sang maestro Cikalong. dan mulailah Rd Obing belajar cikalong langsung pada Rd. H. Ibrahim

Selain mendalami cikalong, Rd. Obing juga mendalami maenpo sabandar yang menurut beberapa kisah, Rd. Obing belajar dari gurunya (Rd. Enoh) dan kemudian di lanjutkan belajar langsung pada Mama Kosim di sabandar. namun ada juga kisah yang menceritakan bahwa Rd. Obing hanya belajar sabandar pada Rd. Enoh dan tidak belajar langsung pada Mama kosim (waallohualam bisawab)

Ternyata kecerdasan dan kejeniusan Rd. Obing menyebabkan beliau sangat di sayangi oleh para guru-gurunya, kemampuan untuk mendalami dan menggabungkan perinsip perinsip dari cikalong dan sabandar membuat para gurunya kagum, sehingga saking sayangnya Rd. H. Ibrahim memberikan Nama Ibrahim dibelakang nama Rd. Obing sehingga namanya menjadi Rd. Obing Ibrahim. Nama Ibrahim adalah nama pemberian dari Guru sebagai rasa sayang kepada murid.

Perkembangan maenpo di cianjur memiliki pusat pusat pengembangan yang letaknya tidak terlalu jauh. Bojong herang merupakan pusat dari pengembangan murid-murid Sabandar, sedangkan Pasar Baru merupakan pusat pengembangan Cikalong. Diantara kedua pusat ini adalah kaum, disinilah para tokoh maenpo cianjur mempelajari kedua aliran ini baik cikalong maupun sabandar, dan tokoh dari kaum ini adalah Rd. Obing Ibrahim.

Keahlian Rd. Obing Ibrahim dalam bersilat sangat di akui kala itu, sehingga banyak tokoh cikalong yang menimba ilmu padanya. beberapa tokoh maenpo cikalong yang sempat belajar pada Rd. Obing adalah:

 

  • Rd. Didi (gan Didi)
  • Rd. Utuk (gan Utuk)
  • Rd. Idrus (gan Idrus)
  • Rd. Nunung Ahmad Dasuki (gan Nunung)
  • Rd. Memed (gan Memed)
  • Rd. Popo Sumadipraya (gan Popo)

 

Dalam perjalanan keilmuannya Rd Obing Ibrahim juga mengembangkan Maenpo Suliwa, sebuah ilmu penca yang dirumuskan dari pengalamannya mempelajari dan menggeluti penca selama hidupnya.

Dilahirkan 12 Maret 1855 Rd. Obing ibrahim terakhir menjabat sebagai Naib (penghulu) Cianjur, beliau wafat di Cianjur tanggal 1 Juni 1942 dan dimakamkan di suka negara, Kecamatan Tanggeung Cianjur.