Prestasi Dalam Pencak Silat Tidak Harus Melalui Pertandingan

1

Prestasi Dalam Pencak Silat

Pertandingan SilatBanyak anggapan yang saya dengar bahwa berprestasi di bidang pencak silat adalah dengan memenangkan kejuaraan pertandingan silat olahraga/tanding maupun silat seni versi IPSI/versi pertandingan. Yang jadi pertanyaan dalam benak saya adalah: “apakah hanya sebatas itu saja kah hitungan berprestasi dalam pencak silat?”, “bagaimana dengan penggiat silat tradisional yang memang tidak berminat atau tidak dididik untuk bertanding dalam kejuaraan ala IPSI tersebut?”.

Sebelum saya bahas lebih lanjut, untuk pengertian mendasar dari kata “prestasi”, saya akan merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonsia versi online (http://kbbi.web.id/).

 

prestasi /pres·ta·si/ /préstasi/ n hasil yg telah dicapai (dr yg telah dilakukan, dikerjakan, dsb): ia merasa kecewa thd — yg telah dicapai anak asuhnya; — nya itu telah menumbangkan rekor sebelumnya;

— akademis  hasil pelajaran yg diperoleh dr kegiatan belajar di sekolah atau perguruan tinggi yg bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian; 
— belajar  penguasaan pengetahuan atau keterampilan yg dikembangkan melalui mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dng nila i tes atau angka nilai yg diberikan oleh guru; 
— kerja  hasil kerja yg dicapai oleh seorang karyawan dl melaksanakan tugas yg dibebankan kepadanya; kinerjaberprestasi/ber·pres·ta·si/ v mempunyai prestasi dl suatu hal (dr yg telah dilakukan, dikerjakan, dsb): kotamadya itu ~ baik dalam bidang pembangunan

Jadi bisa disimpulkan bahwasannya prestasi adalah hasil yang telah dicapai oleh seseorang, atau dengan kata lain adalah sebuah pencapaian dari kerja keras selama ini.

Menurut saya –dihubungkan dengan pencak silat- prestasi dalam pengertian pencapaian ini tidak harus dengan “pencapaian” supremasi tertinggi di kejuaraan silat ala IPSI. Seharusnya maknanya lebih luas lagi. Betul jika atlet-atlet yang memenangkan atau malah yang sekedar mengikuti pertandingan silat entah itu nomor seni maupun tanding dapat dikatakan sebagai berprestasi, itu betul sekali, hanya dalam pemahaman saya, prestasi yang bisa dicapai tidak hanya dari bidang “pertandingan” tadi itu, malah pengertian saya lebih luas lagi dari itu.

Ada banyak hal untuk bisa dikatakan berprestasi dalam pencak silat. Pertama yang harus kita tinjau adalah tujuan dari berlatih ataupun mengembangan pencak silat itu sendiri, yang tentunya tiap orang akan berbeda-beda. Seseorang yang memang sudah “didesain” sejak awal untuk bertanding tentunya akan berusaha berprestasi dengan cara mencapai kejuaraan. Seseorang yang bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai tradisi pencak silat tentunya akan memilki definisi dan tujuan yang berbeda.

Harus kita sadari bahwa pencak silat itu luas sekali. Silat dalam versi olahraga pertandingan hanyalah salah satu sisi/ versi dari pencak silat itu sendiri. Dalam Pencak Silat terkandung juga sisi sejarah, sisi seni, sisi beladiri murni, sisi strategi, sisi kebudayaan, sisi psikologis, sisi sejarah, dan juga sisi filsafat dan spiritual.

Pencak Malioboro Festival 2013Berbicara soal sisi olahraga pertandingan pun, apakah yang berprestasi bukan dari jalur kejuaraan resmi pertandingan ala IPSI harus dikatakan sebagai tidak berprestasi? Dalam hemat saya tentu saja orag tadi atau praktisi slat tadi juga berprestasi. Pernah saya temui sendiri, orang-orang silat yang mengembangkan diri, atau mungkin memiliki motivasi untuk “mencoba” ilmunya dengan mengikuti berbagai kejuaraan seperti Mix Martial Art, Submission Wrestling, San Shou atau mungkin dengan mengikuti Pencak Dor yang sekarang menjadi tradisi di Jawa Timur. Buat saya itu sah-sah saja selama tujuannya positif.

Kenyataannya di luar sana ada banyak versi pertandingan silat di luar versi IPSI seperti contohnya Pencak Dor. Kemudian juga ada orang-orang silat yang berminat untuk “coba-coba” ikut pertandingan beladiri bebas ataupun pertandingan beladiri lain yang kira-kira bisa diikuti olehnya dikarenakan di alirannya memang ada teknik yang bisa diadaptasikan dengan aturan pertandingan tersebut.

Ada juga orang-orang yang lebih berminat, lebih fokus mengembangkan sisi-sisi lain dari pencak silat. Misanya ada orang yang lebih tertarik mengkaji sisi psikologis, sisi filsafat dan spiritual juga sisi strategi dari ajaran pencak silat. Bagaimana dengan orang-orang ini, apakah karena mereka tidak pernah bertanding lantas tidak dikatakan berprestasi. Sering saya temui kawan-kawan yang berusaha membuat seminar motivasi ataupun seminar bisnis dengan menggunakan kaidah-kaidah silat. Kita lihat contoh dari beladri lain , misalnya seorang motivator top sekaliber Andri Wongso, ternyata menerapkan prinsip-prinsip kung fu yang dia pelajari, dan juga menerapkan Chinese wisdoms yang dia dapatkan ketika belajar kung fu. Ini kan juga prestasi. Jarang orang yang terpikir bahkan jarang orang yang mampu mensinergikan penerapan sisi strategi ataupun kebijaksanaan beladiri (silat) ke dalam bidang-bidang lain. Ketika ada yang mampu, artinya kan orang itu jelas berprestasi.

Pernah juga saya temui orang yang melihat silat dari sisi psikologis, yang larinya ke pengembangan art of healing ataupun terapi psikologis. Ada yang pernah menggunakan silat sebagai salah satu metode “terapi” untuk pengembangan kemampuan “anak berbakat khusus/ anak yang berkebutuhan khusus”, bekerja sama dengan lembaga penelitian kampus. Ada juga seorang kawan yang mengunakan prinsip-prinsip silat dan juga beladiri aikido untuk pengembangan training art of healing ataupun pengembangan diri. Sebagai perbandingan di Amerika kalau saya tidak salah, ada universitas yang menjadikan aikido sebagai salah satu mata kuliah di Fakultas Psikologi. Nah, ketika ada beberapa kawan-kawan penekun silat yang pernah melakukan hal-hal seperti contoh di atas, apa itu juga bukan suatu prestasi !? Jelas itu suatu prestasi, berusaha mengembangkan silat dari “sisi yang lain”, dan yang jelas sudah ada karya nyatanya.

Ada juga yang lebih fokus pada sisi-sisi lainnya, misalnya ada kawan-kawan yang fokus untuk membuat acara-acara silat seperti misanya pawai budaya, seminar silat, workshop silat dengan tema spesifik. Ini pun merupakan prestasi. Ada banyak sisi yang bisa diungkap melalui kegiatan-kegiatan tersebut, misalnya dalam workshop , bisa diungkap sisi praktis silat dengan tema tersebut, namun bisa juga berbicara soal sisik sejarah dihubungkan dengan kebudayaan. Ini jelas merupakan prestasi, bahkan dengan pendokumentasian melalui video ataupun dengan membuat buku tentang silat, itu jelas prestasi. Sangat sulit kita menemukan dokumentasi aliran-aliran silat yang baik dan lengkap.

Beberapa kali saya lihat thesis tentang pencak silat dari sudut pandang antropologi, sosiologi, sejarah dan juga ilmu budaya. Ironisnya, kebanyakan thesis tersebut buatan orang-orag luar negeri, orang-orang lokal baru sebatas narasumber. Namun demikian pembuat thesis maupun narasumber/pembimbingnya dalam bidang silat, jelas itu pun merupakan orang yang berprestasi. Yang membuat saya agak mengerenyitkan dahi adalah justru orang-orang luar negeri ini bisa melihat silat dari aspek-aspek lainnya seperti misalnya antropologi lengkap dengan detil-detil temanya menyangkut pencak silat.

Saya jadi teringat dengan kawan saya, seorang pelatih silat tradisional dengan metode latihan yang ortodoks, Suatu waktu dia curhat kepada saya, bahwa proposal kegiatan silat ditolak oleh sekolah-sekolah lantaran menurut sekolah-sekolah tadi, perguruan kawan saya tadi tidak bisa memberikan prestasi ke sekolah karena tidak bisa dipertandingkan. Komentar saya sih hanya begini saja: “sungguh sempit dan sungguh picik pemikiran pihak sekolah-sekolah tadi”.

Kenapa masih berpikiran bahwa mencapai prestasi untuk sekolah hanya dengan memenangkan kejuaraan. Coba kita pikirkan secara mendalam, bukankah bisa mencapai nama baik/prestasi untuk sekolah dengan jalan lain, misalnya: di Betawi bisa dengan sering mengikuti Festival Palang Pintu, atau malah bisa dengan seringnya ditanggap di hajatan untuk menjadi pemain buka palang pintu pun sebuah prestasi, bisa juga dengan membuat pementasan teater bekerjasama dengan anak teater membuat pementasan berbasis silat juga kan prestasi. Kemudian pihak sekolah mungkin tidak paham atau tidak mengatahui, jika khususnya di Jakarta sering sekali komunitas-komunitas berbasis adat ataupun kampung-kampung di mana budaya Betawi masih lekat mengadakan acara haul, kaulan ataupun panggung silat. Dengan tampil di acara-acara tersebut itu pun harusnya dinilai sebagai sebuah prestasi.

Mind set-nya harus kita “luruskan”. Coba bandingkan dengan ekskul seni misalnya dimana di dalamnya bernaung kegiatan teater, band, vocal group, seni tari, dll. Bukan kah prestasi dalam ekskul kesenian tersebut tidak hanya dinilai dari sebuah kompetisi. Kita lihat misalnya teater, kan tidak harus berprestasi itu melalui pertandingan antar teater sekolah, prestasi teater kan bisa dengan cara membuat pementasan teater.

Pertandingan SilatPersoalannya, kenapa ketika berbicara tentang pencak silat , yang terpikirkan dalam benak pihak seolah-olah hanyalah olahraga prestasi?! Padahal olahraga prestasi dalam pencak silat itu hanyalah salah satu aspek/sisi saja dari keseluruhan aspek/sisi pencak silat. Bukan tidak boleh bertanding atau berprestasi di pertandingan, sangat boleh dan sangat bagus bahkan untuk memupuk jiwa sportivitas, tapi apakah hanya harus dari sisi itu saja untuk mencapai prestasi. Sementara jaman dahulunya silat pun tidak dipertandingakn. Saya akan ambil contoh beladiri Aikido –kebetulan beladiri ini banyak menjadi ekskul di sekolah-sekolah elite/ sekolah internasional- di aikido tidak ada pertandingannya. Doktrin cinta kasih , harmoni dengan alam, dan pengembangan diri/ self improvement menjadikan beladiri ini sebagai beladiri tanpa kompetisi. Di aikdo diajarkan tatakrama berbusana ala Jepang, bagaimana tatakrama bertindak selama di tempat latihan, bagaimana memahami filsafatnya yang berasal dari ajaran sekte Omoto Kyo. Kita lihat faktanya, peminatnya sangat banyak, dan tanpa bertanding pun tetap dinilai berprestasi. Di negeri ini pun ada aliran silat yang memiliki doktrin seperti itu tapi tentunya spiritualitasnya menggunakan ajaran tassawuf, misalnya salah satunya adalah aliran Cikalong. Bayangkan jika aliran Cikalong “dipaksakan” untuk bertanding, ya tentunya nilai-nilai doktrin aslinya akan menajdi tidak tersampaikan..

Jadi, lebih baik berpikiran lebih luas dan lebih terbuka, bahwasannya ada banyak aspek/sisi dari pencak silat dan masing-masing pihak berusaha mencapai prestasi di bidang aspek/sisi yang difokuskannya.