Pesan untuk Indonesia

0

Waktu kecil, saya hanya mengenal Karate sebagai seni beladiri, dan menganggap Pencak Silat sebagai suatu jenis seni tari. Saya tidak tahu banyak tentang Pencak Silat sampai saya tinggal di Belanda untuk melanjutkan studi. Pada tahun 2011, saya diajak oleh seorang teman untuk ikut les Bahasa Belanda di rumah seorang bapak dari Indonesia yang sudah lama tinggal di Belanda.

 

Ternyata bapak itu adalah juga seorang Guru Besar Pencak Silat. Murid-murid beliau berlatih dengan serius sehingga memaknai Pencak Silat sampai ke akar-akarnya, dan sebagian dari mereka sudah mulai mengamalkan ilmu kebatinan. Beliau dan murid-muridnya berkunjung ke Indonesia setiap 2-3 tahun sekali untuk lebih mendalami budaya Indonesia dan mengunjungi tempat-tempat bersejarah.

 

Saya dan suami jadi tertarik melihat latihan Pencak Silat perguruan mereka, dan sesekali kami datang. Mereka sempat berlatih percakapan Bahasa Indonesia dengan kami, sebelum mereka pergi ke Indonesia. Dari situ kami mengenal mereka lebih jauh. Selain itu, beliau juga banyak bercerita tentang Pencak Silat.

 

Kami jadi tahu sejarah Pencak Silat dan perbedaan asal Pencak dan Silat. Ternyata, Pencak Silat merupakan seni beladiri (self-defense arts), bukan seni tarung (martial arts). Selain itu, ternyata Pencak Silat dahulu dipakai oleh para pejuang kemerdekaan dalam melawan Belanda.

 

Bapak yang sudah sepuh ini, dahulu adalah seorang polisi di era kemerdekaan Indonesia. Karena urusan keluarga, beliau pindah ke Belanda pada tahun 1964. Namun, hatinya masih tertinggal di Indonesia sampai sekarang.

 

Beliau banyak menyampaikan rasa prihatinnya terhadap dunia Pencak Silat, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Para pesilat seharusnya adalah orang-orang berbudi luhur, sehingga beliau sangat sedih ketika menemui pesilat yang menyalahgunakan wewenangnya. Beliau berkali-kali berkata, “Siapa yang akan meneruskan perjuangan saya jika saya sudah tidak ada?”

 

Hati saya tergugah untuk menyampaikan pesan-pesan penting beliau, tapi saya paham benar bahwa Pencak Silat tidak populer di kalangan anak muda Indonesia. Oleh karena itu, saya ingin Pencak Silat menjadi lebih dikenal oleh sebanyak mungkin anak muda Indonesia, supaya bisa tumbuh kader-kader muda yang akan memperbaiki wajah dunia Pencak Silat di Indonesia dan berefek pada dunia Pencak Silat di luar negeri.

 

Bagi saya, yang terpenting adalah langkah pertama: yaitu membangkitkan kesadaran anak muda Indonesia tentang Pencak Silat. Tentu banyak dari mereka yang juga seperti saya dulu, tidak mengerti bahwa Pencak Silat adalah suatu seni beladiri. Bahkan mungkin ada yang tidak mengenal bahwa Pencak Silat berasal dari Indonesia.

 

Pada awalnya saya ingin menggunakan sistem media sosial seperti Facebook dan Twitter untuk mensosialisasikan Pencak Silat ke kalangan anak muda Indonesia. Ketika membaca pengumuman kompetisi film pendek oleh PPI Belanda, langsung timbul ide saya untuk berbagi cerita tentang Pencak Silat lewat sebuah film.

 

Untuk pembuatan film, saya minta beliau bercerita tentang Pencak Silat dan wasiat dari Bung Karno yang kerap beliau ucapkan. Saya mengkontak teman-teman Indonesia untuk ikut berpendapat tentang Pencak Silat. Salah satu pesilat murid beliau membantu mempertemukan saya dengan pesilat-pesilat lain di Belanda. Suami saya membantu mengisi suara dan musik. Keduanya juga banyak berdiskusi dengan saya selama pembuatan film ini.

 

Film yang dibuat dengan kamera pocket ini masih jauh dari sempurna, namun saya harap bisa mewakili pesan kami untuk Indonesia. Selamat menonton!

 

[embedplusvideo height=”281″ width=”450″ standard=”http://www.youtube.com/v/AsnaElp4T0I?fs=1″ vars=”ytid=AsnaElp4T0I&width=450&height=281&start=&stop=&rs=w&hd=0&autoplay=0&react=1&chapters=&notes=” id=”ep7442″ /]