Perjalanan Mencari Silat (Sebuah Catatan Bagian 7)

0

Hari-hari merenungi semua ajaran eyangnya dan berbagai ajaran silat lain terus berlalu.

Akhirnya Ara memutuskan untuk mengajarkan silat dari eyangnya itu kepada beberapa kawannya. Kata eyangnya, menjadi guru juga berarti menjadi murid karena banyak hal yang akan didapatkannya juga ketika mengajar, dan mengajar adalah usaha untuk menemukan cara menjelaskan pada orang lain dan diri sendiri.

Suatu hari, Ara pergi bersama kawan-kawannya yang juga belajar silat tersebut ke sebuah tempat bernama Oray Tapa yang berada di lereng gunung Manglayang. Tempat yang sunyi dan tidak terlalu mudah dicapai terlihat sangat menjanjikan untuk dijadikan tempat berlatih. Akhirnya Ara jatuh cinta pada tempat tersebut dan mulai menjadikannya tempat berlatih. Secara rutin, tiap minggu dan hari-hari tertentu terutama ketika bulan purnama yang indah Ara pergi ke tempat tersebut. Pemandangan di lokasi tersebut juga sangat indah. Kota Bandung dari ujung ke ujung terlihat jelas. Bahkan kawah kamojang pun bisa dilihat dengan menggunakan teropong yang cukup kuat.

Udara dingin dan air pun ada walaupun tidak mengalir dengan deras, tapi ada pancuran kecil yang bisa digunakan untuk mendinginkan badan.

Setiap pagi, Ara melakukan jurus sepanjang sekitar 500meter-1km dan beristirahat sebentar untuk memetik arbey hutan.

Jurus demi jurus berlalu. Hanya rasa segar karena udara yang sejuk, rasa capek setelah berlatih keras semalaman, rasa dingin yang menikam tulang, kehangatan kopi di malam hari ditemani ayam bakar atau sekedar indomie rebus. Tapi sebuah pertanyaan kembali hadir.

Apakah sebenarnya jurus itu ?

Kenapa jurus itu dibuat begitu dan harus diikuti seperti itu ? Padahal jurus tidak bisa diikuti seperti itu ketika digunakan untuk bertarung, kalau sudah begitu kenapa tidak dibuat praktis saja ?

Berlatih di alam ternyata betul-betul memberikan nuansa yang berbeda. Lepas dari pikiran jam pulang latihan, lepas dari pikiran waktunya berkunjung ke pacar, dan lainnya. Bahkan untuk tidurpun cukup langsung terkapar di depan api unggun tanpa perlu pusing-pusing menyiapkan tempat tidur. Seluruh jiwa dan raga tercurah untuk latihan selama berlatih di tempat tersebut. Banyak hal yang didapat, tapi juga banyak pertanyaan yang kembali hadir sementara pertanyaan lama pun belum semua terjawab.

Suatu hari Ara memutuskan untuk berjalan-jalan lagi seperti dulu. Kali ini sasarannya adalah sebuah tempat bernama Ciomas Banten. Tempat ini dipilihnya setelah dalam suatu bincang-bincang Ara mendengar tentang golok ciomas yang terkenal dengan ketajamannya. Juga melihat demonstrasi kedasyatan golok tersebut yang di gunakan untuk menebas sebatang pohon pisang. Ara yakin ada sebuah silat yang pasti menemani ke dasyatan golok tersebut.

Dengan diantar seorang kawan, Ara di perkenalkan dengan seseorang di sebuah pesantren di daerah Ciomas. Disana Ara melihat dan mengenal bagaimana pembuatan golok ciomas secara “tradisional”. Rangkaian ritual dan berbagai hal yang diperlukan untuk membuat golok tersebut, dari golok yang berkelas “biasa” hingga kelas yang “tidak biasa”. Waktu itu Ara berkesempatan melihat proses pembuatan yang “tidak biasa” dengan rangkaian ritual yang tidak biasa juga.

Yang menarik adalah silat yang mereka latih ketika malam hari tiba. Teknik yang mereka latih begitu sederhana, langsung berhadapan dan mempraktekan gerakan yang sederhana. Seperti jurus-jurus silat praktis yang langsung dipraktekan berhadapan. Ara berpikir apakah seperti ini seharusnya ? Sederhana dan langsung ke arah prakteknya sehingga lepas dari kerumitan berbagai jurus seperti yang selama ini dipelajari ?

Tapi setelah itu ada sebuah petuah yang didengarnya, kalau latihan-latihan yang mereka lakukan menghasilkan kekuatan dan kecepatan, tapi ada banyak hal lain yang di kisahkan tentang keutuhan, keselarasan dan juga sesuatu tentang kondisi natural manusia yang baru akan diajarkan pada sebuah tingkat tertentu.

 

Jadi apakah arti sebuah jurus ?

 

Bersambung ………………..