Perjalanan Mencari Silat (Sebuah Catatan Bagian 17)

0

Bulan desember yang penuh hujan, di bawah hujan yang begitu deras, Ara memulai perjalanannya ke sebuah tempat di sebuah bukit di lereng sebuah gunung. Tempat yang adem dengan suara air mengalir menemaninya.

Sendirian ditempat itu Ara berjurus. Satu per satu dimainkannya. Pikirannya sedikit terganggu oleh berbagai kejadian yang tengah di hadapinya dengan banyak pertanyaan yang sama yang sering muncul.

Hati… jurus… rasa… jurus… pepatah… jurus… kidung… jurus…. hati…

Lelah berjurus karena tidak bisa berkonsentrasi, Ara duduk menikmati segelas kopi panas yang baru dibuatnya. Dan kemudian dia di kejutkan oleh bayangan hitam yang mendadak samar melintasinya yang ternyata adalah seekor musang yang bergerak menendap-ngendap melintasinya.

Wah, bisa-bisanya dia sudah ada didepan tanpa ketahuan, kata Ara dalam hati.

Lalu seekor kucing mendadak berlari menghampiri sang musang dengan sangat cepat. Melesat bagai sebatang anak panah. Panah ????

Sekejap teringatlah Ara pada sang guru yang juga mengajarinya memanah dan pertemuannya dengan seorang guru yang juga mengajarkan seni memanah di kota Yogyakarta. Sebuah pertemuan yang unik karena ternyata guru dari sang guru tersebut adalah ….. seseorang yang di ketahuinya. Dunia berputar dalam putaran yang besar dan mengecil atau dalam putaran kecil yang kemudian membesar ?

Dalam pertemuan tersebut sang guru tersebut sempat berduaan berbincang dengan Ara di sebuah pojok lapangan.

“Posisimu sudah baik, hanya kamu terlalu bawah”, kata sang guru sambil memperlihatkan sebuah posisi dan postur posisi tersebut.

Melihat posisi tersebut…. Duaarrr….

“Loh ini kan ….. ??!!”, Sekejap Ara teringat kembali pada sang kakek.

Sebuah ingatan seketika melayang dalam ingatan Ara.

“Gendawa ibarat seorang wanita, panah ini adalah hatinya, pertama kamu perlu menyatukan hatimu dengan hatinya sebelum melepaskannya bersama-sama. Menyatukannya dengan hatimu. Sang gendawa akan membawa sang panah, kamu mengarahkannya dan berjalan bersamanya. Hari ini kamu mungkin belum paham maknanya, tapi suatu hari nanti kamu akan bertemu seseorang yang akan membuatmu mengerti jawabannya, ketika kamu sudah besar dan sudah mengerti soal hidup lelaki dan perempuan dan ketika kamu suatu hari kamu siap untuk menjadi seorang guru. Dan saat itu ingatlah kembali baik-baik kisah tentang pengakuan”, Lanjutnya.

Senyumnya mengembang ketika bercerita, sementara Ara kecil kebingungan tidak mengerti.

Sang eyang pun melanjutkan, “Jurus pertama sudah menggambarkan segalanya. Jurus menggambarkan tentang hidup dunia lahir batin, untuk itulah kamu harus belajar bukan hanya jurus-jurus ini tapi juga tentang makna kidung-kidung ini agar suatu hari kamu akan mengerti maknanya, bukan cuma bisa meng-kidungkannya saja. Suatu hari bila berjodoh, kamu akan mengerti tentang memanah dengan jurusmu sendiri.”.

“Ingat juga baik-baik, bahkan seorang gurupun suatu saat perlu belajar dari muridnya. Dan ingatlah, ketika diperlukan sebuah pelajaran, saat itu akan datang seorang guru apapun wujudnya”, Lanjutnya lagi.

“Kidung yang aneh itu bagaimana bisa berisi cerita tentang jurus ?”, Ara berpikir ketika itu sambil membuka kembali sebuah kitab yang diserahkan sang guru padanya.

Hari itu hari dimana Ara diajarkan mengenai memanah, dengan segala tradisinya, dengan segala upacara awalnya sebelum melepas anak panah, hari dimana kidung-kidung yang harus sangat tepat cara melantunkannya di turunkan dan di nyanyikan bersama. Hari dimana Ara belum menyadari betapa erat dan dekatnya jurus yang dipelajarinya dengan memanah.

Belum genap sebulan yang lalu seorang guru yang mengajar seni memanah membuatnya teringat begitu banyak kisah-kisah yang terlupakan, hari ini, Ara di temani tetes air hujan merenungi kembali kisah pegunungan yang tertuang dalam kitab tersebut, merenungi kidung yang mengaliri hatinya.

“Jadi kenapa belakangan ini kisah tentang pengakuan begitu sering muncul disekelilingku ?”, Pertanyaan itu terus berputar dalam otaknya selama berjurus.

“Pastilah ada sebuah pelajaran untukku, perjalanan baru. Karena ketika kita membutuhkan pelajaran, guru akan datang dalam wujud apapun”

Lalu Ara pun berjurus “panah” hingga lelah menusuk tulang, hingga…. sesuatu menghentikannya.

Ara pun bergumam dalam hatinya, “Terimakasih guru, maafkan aku yang melupakan ajaran itu. Terimakasih guru yang telah membuatku ingat kembali apa yang diajarkan guruku”.

 

“Han Ta Ka, Suatu Hari Akan Bertemu Jodohnya