Perjalanan Mencari Silat (Sebuah Catatan Bagian 11)

0

Merenungi

Hari itu Ara berkunjung ke kota Yogyakarta. Dari sana kemudian dia berjalan-jalan ke sebuah perkampungan di wilayah selatan, didaerah perbukitan dengan pohon-pohon yang jarang di area sana. Perjalanannya cukup menyenangkan. Ditemani angin sepoi dan rontokan daun yang beterbangan. Pemandangan yang indah yang menemani disenjang perjalanan tersebut.

Kepergian Ara kesana adalah untuk mengunjungi seorang pesilat tua yang tinggal di sebuah desa tak jauh dari gua Selarong.

Perjalanan yang santai dilakukannya sambil menikmati angin yang bergulir meniup kulitnya.

Akhirnya Ara tiba di desa tersebut. Tapi alangkah terkejutnya Ara ketika mendapati kalau sekitar 2 bulan sebelum kedatangannya ternyata beliau sudah meninggal dunia.

Sepanjang yang Ara ketahui beliau ini tidak memiliki murid, dan begitu juga apa yang dikatakan oleh orang-orang di desa tersebut. Beliau tidak memiliki murid dan tidak ada yang mau mewarisi ilmu silatnya. Anak cucunya pun tidak belajar kecuali waktu masih kecil, itupun dikatakannya “sudah lupa lagi”.

Satu sejarah hidup sudah musnah. Entah aliran apa sebetulnya yang dimilikinya Ara juga tidak mengetahuinya. Tapi dengan ketidakadaan orang yang mewarisi ilmu dan pengetahuannya berarti kisah dibalik ilmu silatnya pun ikut musnah.

Dari para orang tua yang masih ada disana, Ara mendengar sedikit kisah kesaktian dan kepiawaian pak tua tersebut dalam bersilat dimasa lalu menghadapi kondisi area tersebut yang dikatakan berlingkungan “keras”. Dari mereka Ara mendengarkan kisah berdirinya desa mereka dan para pesilat yang ikut membangun itu semua dan bahwa waktu kecil merekapun sempat belajar untuk membantu menjaga desa mereka. “Tapi sekarang sudah ngak inget”, begitu yang mereka sampaikan.

Dipelajari ketika dibutuhkan. Mungkin itu kondisi yang bisa menggambarkannya. Tidak bisa dipersalahkan juga karena area desa disana memang membutuhkan usaha untuk bisa hidup.

Jika saja aliran silat yang dimiliki beliau ini termasuk dalam silat yang unik dan tidak seperti gaya banyak aliran silat dari jawa berarti musnahnya satu warisan leluhur kita. Paling tidak 1 sejarah hidup telah hilang. Sungguh sangat di sayangkan.

Dari desa itu Ara bergerak terus kearah selatan melalui perbukitan dan berhenti menemui orang-orang tua di desa-desa yang dilaluinya hingga ke pesisir pantai selatan. Dan inilah fakta yang dijumpainya. Mereka-mereka para ahli silat tidak memiliki murid atau hanya anak-anak kecil yang pernah sedikit belajar. Mayoritas dari mereka sudah tidak ada lagi di dunia ini. Yang tertinggal hanya kenangan.

Mudah-mudahan tidak ada aliran silat yang musnah tertelan jaman.