Energi Itu Bernama Silat

0

ENERGI ITU BERNAMA SILAT
Oleh: ANDY SRI WAHYUDI ( JURI FESTIVAL KOMPOSISI GERAK )

Tiada kata yang lebih tepat kecuali keberanian, keyakinan dan cinta yang melatari terselenggaranya sebuah hajatan tahunan: Jambore Pencak Silat Nasional, di kota Yogyakarta, pada tanggal 28 – 31 Mei 2015. Puluhan perguruan pencak silat menghadiri perhelatan yang diikuti perguruan dari Yogya, Bandung, Surabaya, Jakarta dan kota lainnya. Jambore Pencak 2015 kali ini tak hanya berupa perlombaan saja, akan tetapi juga menghadirkan acara pendukung seperti Bazzar, workshop silat, wisata pencak, lomba foto pencak, lomba gambar dan mewarnai, panggung kesenian dan pawai pencak. Acara yang dimotori oleh Paseduluran Angkringan Silat dan Tantungan Project ini digelar di Alun-Alun Sewandanan depan Pura Pakualaman Yogyakarta. Kecuali acara pawai pencak yang digelar di sepanjang jalan Malioboro.

Jambore Pencak 2015 merupakan acara tahunan yang telah terselenggara sebanyak empat kali sejak tahun 2012, digelar di ruang terbuka dan diperuntukan oleh masyarakat luas. Kehadiran acara ini tak dapat dilihat dalam satu sudut padang yang hanya terfokus pada seni beladiri saja. Senyatanya banyak acara pendukung yang turut meramaikan, banyak unsur yang melingkupinya baik dari bidang seni maupun non seni. Tentu saja kerja menejemen penyelenggaraan ini membutuhkan banyak biaya, tenaga ekstra dan kerjasama tim yang kuat. Strategi menjalin relasi antar personal, komunitas dan publik juga tak dapat dipandang sebelah mata, sebab terselenggara acara adalah hasil daripada jalinan relasi. Masing-masing acara tidak dapat dibiarkan berjalan begitu saja, semuanya perlu dirundingkan bersama. Sebuah proyek berjangka yang harus dikerjakan dengan kehati-hatian dan greget kerja yang intensif. Sudah selayaknya seluruh jajaran kepengurusan mendapatkan penghormatan dari masyarakat penonton dalam kerja kebudayaan yang kreatif ini.

Peristiwa ini sebagai bukti bahwa Pencak Silat tidak mau egois berkutat dengan keasyikannya sendiri, ia ingin melebur di tengah kehidupan masyarakat. Pencak silat ingin meluas dan meninggi secara kwantitas dan kwalitas. Segala resiko telah siap untuk ditanggung bersama, sebab acara ini menjadi milik semua orang yang melihatnya, yang membacanya, yang menikmatinya, ataupun hanya sekadar mampir menuruti rasa penasaran saja. Jambore Silat menjadi sebuah perayaan bersama, dan semua berhak menjadi bagian dalam perayaan tersebut. Maka selayaknya kita apresiasi bersama untuk keberlangsungan dan proses gerak yang lebih mengena ke jantung masyarakat.

Komposisi dan Sinergi
Dalam hajatan ini masing-masing perguruan unjuk kebolehannya dalam lomba Komposisi Gerak Pencak. Adu ketangkasan, ketrampilan dan keberanian berkreativitas dalam komposisi gerak pencak, adalah tantangan tersendiri bagi setiap perguruan. Perlombaan ini tak semata hanya berujung pada kata “menang atau kalah”, sebab ajang ini untuk memaknai nilai – nilai yang terkandung dalam pencak. Komposisi pencak dihadirkan untuk membangun kepekaan, kekuatan, keberanian, kebersamaan, memaknai proses kreatif dan spirit gerak yang tercipta. Sinergi nilai-nilai tersebut tampak pada karya komposisi gerak yang secara teknis dirangkai dalam kesatuan irama, dinamika, bloking, musik, kostum, dramatika dan susunan gerakan.

Para juri tak hanya menilai dari satu sudut pandang silat saja, banyak unsur dari komposisi tersebut. Maka didatangkan pula juri dari seni di luar pencak yakni seni tari, teater dan pantomim. Seni diluar pencak dibutuhkan untuk pengembangan dan cara baca yang berbeda dalam penilaian. Pada hari pertama (29 Mei 2005) lomba komposisi pencak diikuti perguruan silat yang didominasi dari kota Yogyakarta. Diantaranya Kethek Putih, KOSEGU, Gagak Handoyo, Manggala Nusa. Setiap perguruan mempertontonkan kebolehannya dalam gerak komposisi. Akan tetapi pada penampilan hari pertama tak banyak tim dari delapan perguruan yang tampil mengesankan. Dalam artian secara teknis dan konseptual tak tergarap secara massif. Beberapa peserta hanya tampak menjalani pentas di atas panggung saja, kurang membaca konteks ruang dan kesatuan anasir-anasir pemanggungan. Bahkan terlihat hanya sekadar mengikuti irama musik dan masih saling pandang untuk menyamakan gerakan. Teknik pemanggungan seperti bloking, koreografi rampak, sinkronisasi irama musik dan gerak belum tertata maksimal. Dari delapan tim yang tampil, ada tiga tim yang tampak lumayan tertata dan potensial untuk dikembangkan baik secara gagasan maupun teknis. Seperti KOSEGU, Gagak Handoko, dan Garuda Wyuha. Hal ini bukan berarti peserta diluar tiga nama tersebut tidak tertata dan tidak potensial, tetapi diharapkan menjadi lebih tertantang untuk kesiapan dan mengkreasi karya ciptanya.

Pada hari kedua (30 Mei 2015) menampilkan 15 perguruan silat. Para penampil yang kebanyakan dari luar kota Yogya ini lebih dinamis dan kaya secara gagasan dan penampilan. Sanggar SILIBET misalnya, berhasil menyuguhkan komposisi gerak silat yang energik dan eksentrik. Grup ini menggunakan konsep “Battle Gerak Silat” saling beradu gerakan antar dua kelompok dalam satu tim. Kemudian membentuk fragmen-fragmen dramatik yang imajinatif. Dimana dalam satu adegan mereka saling serang, seseorang menggunakan keris yang dijadikan bedil untuk menembaki lawannya. Kemudian lawannya membalas dengan melempar bom imajiner. Penampilan ini ada banyak titik keberanian bereksplorasi gerak, sehingga melahirkan komposisi yang unik. Komposisi yang mempunyai daya tawar baru dalam pengembangan gerak pencak. Tentu saja basis gerak pencak silat harus dimatangkan terlebih dahulu sebelum mengarah ke eksplorasi lebih jauh. Lain halnya dengan Grup Sinar Warna dari perguruan Tapak Suci Jakarta yang menyuguhkan gerakan rampak dan tertata dari segi bloking dan irama geraknya. Sehingga komposisi terbaca dan ternikmati dengan baik, yang berarti kesungguhan dalam mengelaborasi gerak silat dan unsur pemanggungan tampak dilakoni dengan perhitungan dan kekompakan kerja. Kelompok ini berhasil mencipta komposisi gerak dengan kesatuan unsur pemanggungan.

Kelompok lain seperti Ajisaka dari perguruan PRSH, Ki Ageng Selo dari perguruan Garuda Jisai, dan Palagan Ujung Galuh dari Perguruan Perisai Putih Surabaya, tak kalah menarik dalam penyuguhannya. Baik dari tampilan kostum, musik dan konsep komposisi gerak yang dibangun. Ketiga kelompok ini tampak seru penampilanya di atas panggung. Dinamika gerak terjaga dengan bagus, baik secara aksi tunggal maupun kelompok. Bahkan terkadang ada gerak-gerak yang mengejutkan dan rangkaian jurus penyerangan yang tampak akrobatik. Beberapa kelompok juga menggunakan teknik dramatik dengan mengambil cerita tradisi seperti Yuyu Kangkang, Warok Jawa Timur dan Perjalan Pemuda dari Palembang ke Betawi. Tokoh Warok tampak menjiwai dalam bermain dengan properti pecut panjang, ia memainkan dengan gerakan khas Jawa Timur. Adegan ini mencuri fokus para pemirsa, sebab karakter tokoh didukung dengan make up dan gerak yang khas. Komposisi gerak kelompok masih terjaga dan tidak terdominasi oleh cerita. Namun tampilan peserta lain yang membawakan konsep komposisi cerita seperti Yuyu Kangkang dan Kisah Perjalan Pemuda tak begitu tertata. Cerita terlalu mendominasi sehingga membuat komposisi gerak tidak tergarap matang. Tokoh-tokoh ceritapun terlihat tanggung dalam memainkan perannya. Sementara itu ada juga peserta yang menggunakan properti berupa senjata seperti pedang, trisula, sabit. Penggunaan properti senjata untuk permainan sebenarnya sangat mendukung, tetapi terkadang malah mengganggu jika tidak terlalu tangkas dalam memainkannya. Senjata tak semata dimainkan untuk menyerang, dalam konteks pemanggungan senjata bisa menjadi fungsi yang lain untuk bisa ditarikan, diatraksikan, atau diimajinasikan diluar fungsinya.

Setelah melihat para penampil dari berbagai perguruan muncul sebuah harapan besar kepada setiap peserta lomba, agar penggarapan komposisi gerak dapat terfasilitasi. Dalam artian kebutuhan proses diluar properti dan hal teknis dapat dipenuhi. Misalnya jika diperlukan pendamping proses kreatif, supervisor, atau pelatihan koreografi gerak dimasing-masing daerah. Sebab hal ini sangat penting demi perkembangan kwalitas karya cipta setiap perguruan pencak silat.

Silat tak hanya berhenti pada gerak jurus-jurus dan ketrampilan gerak, sebab ketika di atas panggung ia bertemu dengan banyak elemen. Gerak dipertemukan dengan ruang, musik, irama dan penonton. Maka wajib untuk mengolah “pertemuan” tersebut dengan daya kreatifitas, sinergi kerja bersama dan penjiwaan. Sehingga konsep dalam gagasan dapat terealisasikan secara nyata dalam prakteknya. Menjadi sebuah karya komposisi gerak pencak yang bersinergi dengan unsur seni lainnya dan unsur pemanggungan.

Medan Kreatifitas dan Titik Tolak Gerakan
Membuat peristiwa berskala nasional memang tak semudah menggoreng tempe yang hanya berbumbu bawang dan garam. Peristiwa tersebut membutuhkan banyak “bumbu-bumbu” yang musti diracik dengan akurat agar menjadi sajian yang istimewa. Meskipun Jambore Silat ini merupakan acara segolongan pecinta pencak silat, tetapi dipersembahkan untuk masyarakat luas. Lantas apa yang akan dipersembahkan oleh dunia persilatan untuk masyarakat? Bukankah banyak falsafah dan nilai-nilai hidup yang terkandung dalam seni pencak silat. Saya rasa itulah tujuan utama acara Jambore Pencak Silat ini diselenggarakan. Jambore Silat bukan sekadar ivent tahunan yang mudah terlupakan, tetapi akan menjadi peristiwa yang akan terus berjalan dalam ingatan dan kenyataan.

Sebelum Jambore Silat terselenggara, diadakan Gelar Budaya Pra Jambore Pencak Nusantara 2015, di Plaza Ngasem 14 Februari 2015. Whany Darmawan seorang pesilat sekaligus seniman memaparkan Orasinya yang berjudul “Silat Sebagai Daya Hidup yang Menghidupi”. Dalam orasi tersebut dikatakan bahwa:

“Label Indonesia sebagai bangsa timur yang halus budi, relijius, manusiawi dan beradab, suka kekerabatan, paham akan dialektika dan adil sudah sangat dikenal. Tetapi rupanya keagungan nilai-nilai itu kini tercemar oleh situasi dan kondisi perilaku manusia Indonesia yang telah mengalami kemerosotan nilai. Hal itu bisa kita simak dalam kasus-kasus aktual akhir-akhir ini ; cara-cara politik kotor, disiplin berlalu lintas, kejujuran, korupsi dan hal negative lainnya.”
Berbicara tentang nilai-nilai, sesungguhnya kita punya warisan nilai budaya nusantara dalam salah satu aspek ragam kebudayaan kita, yakni pencak silat. Tidak bisakah kita mengadopsi nilai-nilai luhur dalam pencak silat untuk kita percayai sebagai patron nilai yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari?”

Semakin jelas dalam orasi budaya tersebut, ada sesuatu yang hendak digapai dalam Jambore Silat Nusantara. Silat bukan semata wahana ekspresi atau seni beladiri yang hadir dalam waktu waktu tertentu. Akan tetapi nilai falsafah yang terkandung dalam pencak silat diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sepanjang waktu. Tentu saja dalam penerapannya membutuhkan kerja bersama. Membutuhkan sebuah gerakan yang di dalamnya dibutuhkan pioner-pioner yang berkomitmen tinggi dalam mewujudkannya.

Jambore Silat Nusantara yang sudah menjadi agenda tahunan selama empat tahun ini, dapat menjadi tolakan untuk mewujudkannya. Apabila dilihat dan dirasakan praktik pelaksanaannya, acara ini telah berhasil dengan lancar. Jambore Silat Nusantara telah disambut dan diapresiasi masyarakat sebagai gelaran seni budaya yang menarik, namun masih dalam taraf apresiasi secara permukaan. Masyarakat belum diajak untuk memahami dan mengerti apa sebenarnya makna diadakannya Jambore Silat Nusantara. Ada banyak acara pendukung yang turut dihadirkan, tapi apakah acara tersebut hanya sekadar untuk meramaikan Jambore? Atau ada maksud lainnya dalam rangka menerapkan nilai seni pencak silat? Dalam keseluruhan acara Jambore silat Nusantara 2015 ini, belum terbaca adanya sebuah “Tema Besar” yang menyatukan keseluruhan acara. Sehingga terasa seperti pecahan-pecahan acara yang hanya bersifat meramaikan. Sebenarnya hadirnya “Tema” dalam sebuah acara bukan menjadi tujuan utama, tetapi tema menjadi sebuah titik yang dapat dibaca sebagai esensi peristiwa. Karena adanya “Tema” berarti telah terjadi diskusi panjang dalam tim kerja sebelum terjadinya peristiwa. Dan dari tema tersebut dapat menjadi rujukan untuk bergerak setelahnya. Bergerak untuk lebih maju, lebih berguna dan berkwalitas.

”Dalam pergerakan ini pencak silat bisa dibagi dua kelompok ; kelompok yang bersifat terbuka dan mampu mengembangkan organisasi dan keilmuannya bahkan menembus benua Asia dan Eropa. Yang kedua adalah kelompok yang memilih sikap selektif dan meyakini gerakannya sebagai konservasi budaya ; merawat, menjaga, melestarikan dan memaknai istilah pengembangan dalam sudut pikir yang berbeda dari umumnya.”

Pencak silat merupakan seni beladiri terpopuler ke – 6 di Asia yang telah mendunia, setelah Wing Chun. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa masyarakat dunia juga mengapresiasi seni beladiri warisan nenek moyang kita. Pencak Silat sudah merambah dan berkembang sampai benua Amerika, Australia hingga Eropa. Kita layak bangga dan bergembira bahwa warisan leluhur kita berkontribusi dalam peradaban dunia. Akan tetapi muncul kegelisahan menanggapi pernyataan dalam petikan Orasi Budaya di atas, masih sebagai lanjutan dalam orasi budaya.

“Dari dua kelompok tersebut, pemaknaan dan pencapaiannya masih bersifat verbal dan kwantitatif. Pencak silat dibangun dalam bidang prestasi dan kejuaraan, jauh dari aplikasi nilai-nilai dalam pergaulan masyarakat. Silat masih bermakna sebagai ilmu berkelahi.”

Kita akan semakin membaca maksudnya, bahwa nilai – nilai falsafah dalam pencak silat musti diperjuangkan bersama, untuk ditanamkan dalam diri para pelaku silat. Dari sanalah nilai falsafah Pencak Silat itu akan hidup dan mengaliri denyut nadi kehidupan masyarakat. Dimana keberanian, sportifitas, keteguhan, kebenaran, kedisiplinan, persaudaraan dan welas asih menjadi kekayaan setiap pribadi. Ternyata memang benar adanya, bahwa Pencak Silat bukan sekadar seni beladiri yang bersifat verbal, hanya dimaknai secara teknis, dan dangkal pemahaman falsafahnya. Silat memiliki nilai falsafah yang dalam untuk membentuk budaya masyarakat yang berkarakter. Dalam orasi budaya juga disebutkan, salah satu langkah praktis yakni dengan memasukkan silat ke dalam kurikulum wajib atau ekskul di sekolah-sekolah dasar hingga menengah. Mungkin masih banyak langkah-langkah yang akan ditemukan dalam pertemuan antar perguruan.

Maka dari itu Jambore Silat Nusantara diharapkan tak hanya menjadi sebuah acara tahunan yang ramai, tetapi dapat menjadi sebuah medan pertemuan yang kreatif antar perguruan untuk berdialog dan menggagas strategi nyata melangkah ke depan. Membuat arus sungai yang terus mengalir dan merembes untuk menyuburkan segala yang ada di seputarnya. Pencak Silat akan menjadi gelombang energi yang menggerakkan dan membangun mentalitas generasi bangsa Indonesia. Tiga hal yang menjadi lambaran titik tolak untuk menjadikan gerakan bersama yakni keberanian, keyakinan dan cinta. Dan itu sudah dipunyai setiap perguruan pencak silat di Indonesia.

Pencak Silat mempunyai sejarah panjang di negeri Nusantara tercinta, ketika jaman penjajahan pencak silat digunakan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pencak silat mempersatukan para pemuda untuk berjuang membela tanah air. Maka sudah saatnya para pesilat masa kini menciptakan sejarahnya sendiri dengan gerakan yang berkontribusi dalam pembangunan karakter dan mental bangsa Indonesia. Secara arti kata Pencak Silat adalah melakukan gerak yang berdasarkan pikiran, hati, dan raga yang tertata untuk menjalin silaturahmi sesama pesilat, masyarakat umum dan hubungan dengan Sang Pencipta. Maka memang sudah menjadi takdirnya bahwa Pencak Silat dilahirkan untuk membangun dan membentuk masyarakat.

Jika ada pertanyaan: Bisakah nilai-nilai silat dipakai untuk mengembangkan perbaikan karakter manusia Indonesia?
Jawabnya: Bisa dengan tanda seru.

“Jogjakarta, 7-13 Juni 2015”
Malam yang dingin sekali dan aku…
NB: Tulisan ini merupakan sebuah amatan dan renungan pribadi sebagai salah satu juri dalam Lomba Komposisi Gerak Pencak dalam Jambore Pancak Silat Nusantara 2015, dari seni teater dan pantomim. Tulisan ini tidak ada maksud untuk menggurui, mengejek atau mencela, apalagi menyakiti. Semoga tulisan ini berguna dapat menjadi renungan dan bahasan bersama secara sehat dan konsekwen.