Tradisi Ojung, Seni pertarungan tongkat khas Madura

0

Tradisi Ojung, Seni pertarungan tongkat khas Madura.


907644_4463474956515_1352832190_nSeni bertarung menggunakan tongkat diduga merupakan seni senjata tertua yang digunakan manusia. Hal ini masuk akal, mengingat ketersediaan tongkat yang universal di seluruh kebudayaan dunia. Selain itu, tongkat kayu juga umum digunakan sebagai medium pengganti (simulator) latihan senjata taj
am. Salah satu seni pertarungan tongkat yang jarang terekspos adalah seni tongkat yang berasal dari Nusantara.

Padahal, ada banyak seni bertarung menggunakan tongkat yang berasal dari nusantara: Ujungan dari tanah Sunda, Tiban di Tulungagung dan Trenggalek, Sampyong di Lumajang, Perisaian (Paresean) dari tanah Lombok, dan lain-lain. Namun kali ini penulis ingin mengulas tentang Tradisi Ojung, khususnya Ojung pulau Madura Sumenep, yang kini kelestariannya sudah mencapai taraf yang mengkhawatirkan.

 

[embedplusvideo height=”365″ width=”450″ standard=”http://www.youtube.com/v/BpMLrC8Qk0s?fs=1″ vars=”ytid=BpMLrC8Qk0s&width=450&height=365&start=&stop=&rs=w&hd=0&autoplay=0&react=1&chapters=&notes=” id=”ep6762″ /]

Sumenep merupakan kabupaten paling timur di pulau Madura dan terkenal sebagai salah satu daerah tujuan wisata di propinsi Jawa Timur. Salah satu objek wisata yang ada di kabupaten Sumenep bera da di kecamatan Batuputih (Batopote). Dari sisi geografis, kecamatan Batuputih terletak di dataran tinggi. Dari pusat kota Sumenep berjarak ±20 km ke arah utara, Dilihat dari kondisi struktur tanah dan bentang alamnya yang berupa pegunungan, pastinya hal yang tampak adalah kekeringan atau kekurangan air serta tanah tadah hujan, Meskipun kenyataan ini menjadi suatu yang tak bisa dihapuskan dari perjalanan masyarakat Batuputih menempuh kehidupan. (www.sumenep.go.id)

909224_4463475076518_1528126444_n

Namun walaupun demikian, kecamatan Batuputih merupakan salah satu lokasi terpenting dalam sejarah Sumenep. Tercatat bahwa Adipati Arya Wiraraja mendirikan pusat pemerintahannya di daerah ini, karena lokasinya yang tinggi dan dekat pantai sangat strategis untuk mengawasi dan menghadapi serangan dari musuh-musuhnya. Menilik dari sejarahnya, tidak heran apabila kecamatan Batuputih merupakan tempat asal dari banyak budaya keprajuritan khas Madura, salah satunya adalah tradisi “Ojung”, ritual tradisi bertarung menggunakan tongkat rotan (Bouvier, 2002).

908954_4463474996516_37184823_n

 

Konon, Ojung pertama kali dipakai oleh empat bersaudara yang sedang mencari sumber mata air. Saat mata air yang mereka miliki telah mengering, mereka saling berlatih tanding amaen Ojung satu sama lainnya di atas bukit secara bergiliran dan salah satu mereka menjadi wasitnya. Setelah itu mereka menemukan sumur mata air yang sampai sekarang menjadi tempat bermain Ojung setiap tahunnya. (www.lontarmadura.com).
Secara teknis, seni ini dilakukan oleh dua orang pemain yang ditengahi oleh seorang wasit. Masing-masing pemain memiliki senjata yang terbuat dari 3 buah rotan sepanjang 110 cm yang dikepang dengan serat nanas jadi satu dan di ujungnya sengaja dibuat pentolan bergigi. Tongkat ini disebut lapolo/lopalo

908458_4463474916514_775108631_n

 

Pemain juga menggunakan pelindung kepala berbentuk kerucut yang terbuat dari karung goni yang disebut bukot. Di dalam bukot dilengkapi dengan kerangka dari sabut buah kelapa dan di sampingnya dipakai sebilah kayu yang berfungsi membelokkan pukulan yang mengarah ke wajah. Terkadang, di bagian muka bukot juga diberi anyaman longgar dari rotan atau tali untuk melindungi muka secara lebih baik. Pemain juga membutuhkan banyak sarung. Sebuah sarung digulung sebagai Odheng di bawah alat pelindung kepala; sarung lain dipakai untuk membalut sebagian tangan kiri hingga pergelangan yang berfungsi sebagai tangkes (menangkis); dan satu sarung lagi, Stagen, untuk dikenakan di pinggang. Tapi, pemain justru bertelanjang kaki dan dada. Serangan yang diperbolehkan adalah Sabet kearah tubuh bagian atas. Tidak diperbolehkan serangan Soddhuk atau menusuk.

Untuk mencari lawan tidaklah sulit, di arena gelanggang 10×10 meter itu setiap penonton dipersilahkan untuk mencari lawan sebanding, terutama tinggi dan umur. Bila sepakat bertanding, maka yang bersangkutan dipersilahkan melepas baju.

 

Permainan  ditengahi oleh wasit yang disebut babutto. Permainan dianggap selesai apabila wasit telah menentukan siapa pemain yang terluka terlebih dahulu atau pemain yang tongkatnya jatuh lebih dahulu. Pada pertandingan tertentu, wasit berhak menghentikan pertandingan yang menurutnya berat sebelah. Meskipun hal itu kadang dilakukan saat kedua pemain masih saling menyerang. Tidak heran, jika wasit juga mengalami luka-luka saat menengahi pertandingan dan tidak heran juga jika sebagian pendukung merasa kecewa dengan keputusan wasit. Walaupun begitu, tidak ada pemenang maupun pihak yang kalah dalam tradisi ini. Semua pulang sebagai saudara, tidak boleh ada yang menyimpan dendam.
Selama pertandingan, musik tradisional yang disebut “Okol” dan kidungan Madura menambah semarak tradisi Ojung tersebut. Musik yang jarang dijumpai di daerah lain ini terdiri dari 3 buah Dung-Dung (akar pohon tangkel/siwalan) yang dilubangi ditengahnya sehingga bunyinya seperti bas, dan kerca serta satu alat musik klenengan sebagai pengatur lagu.

Tentunya, walaupun tidak ada pemenang, para pemuda yang akan mengikuti permainan Ojung ini sebelumnya dilatih dalam hal penggunaan lopalo, kegesitan langkah, dan taktik pertandingan. Selain itu, nyaris semua petarung masih menggunakan jimat dan ilmu kekebalan. Walaupun begitu, tidak jarang para petarung tetap terluka dan berdarah.

907071_4463475036517_794264472_n

Dulu, Ojung merupakan bagian penting dari Rokat (selamatan) orang-orang Batuputih dalam memohon turunnya hujan pada musim Nembara’ (kemarau). Tradisi ini kini mulai jarang peminatnya dikarenakan pergeseran nilai budaya pada masyarakat yang menyebabkan permainan ini dianggap kasar. Juga karena sering kali terjadi carok dan perjudian dalam arena pertandingan. Seandainya saja dibuat suatu standarisasi dengan safety yang lebih baik dan manajemen yang rapi, sebenarnya bukan tidak mungkin tradisi Ojung ini menjadi primadona kebudayaan dari kecamatan Batuputih Sumenep.