Silat In The Park: Berlatih, Bersilaturahmi dan Berdiskusi

0

 

 

10417521_819445558067906_2669336266077269441_nSetelah PAS (Paseduluran Angkringan Silat) Yogyakarta menggebrak dengan acara spektakuler: Pencak Malioboro Festival (PMF III),  gebrakan PAS (Persaudaraan Anak Silat) Jakarta dan Tangtungan Project dengan acara “Silat Milik Kita/Silat Masuk Mall di FX Mall Senayan-Sudirman Jakarta, maka “kegembiraan” silat masih terus berlangsung. Kali ini Kandang Gorilla-Grebeg Cinta Nusantara- Sanggar Terazam dengan didukung oleh PAS Jakarta dan Tangungan Project, mengadakan acara Silat in the Park di Taman Ismail Marzuki (TIM)  Jakarta Pusat. Acara Silat in the Park yang diselenggarakan Minggu, 15 Juni 2015 ini sendiri merupakan ajang “piknik bermanfaat” para pesilat. Berlatih untuk kesehatan raga dan pengetahuan, berbagi dan bersilaturahmi sambil mengenalkan dan mengembangkan silat pada masyarakat umum.

Alhamdulillah puji syukur di tengah guyuran hujan tanpa henti di kota Jakarta, acara Silat In the Park berjalan lancar dan sukses. Dalam penyelenggaraannya, Silat in the Park dibagi dua sesi,

1) Diskusi di Cafe Pondok Penus TIM,

2) Latihan bersama/mini workshop Silat-Kungfu diselingi dengan diskusi budaya – akulturasi budaya di Selasar Gedung Kaca TIM.

 

Sebagai pengisi acara yang menyajikan materi materi ciamik yang bermanfaat adalah :

  • Reni Murdini, Pelatih Atlet Pencak Silat Tim Jakarta Timur.
  • Ahmad Ghuffar Rosyidin, Silat Betawi Langkah Dua Belas.
  • Bang Mad Khobbab, pimpinan Sanggar Terazam/Pencak Terazam.
  • Endah, founder Grebeg Cinta Nusantara, Guru Sejarah di sebuah sekolah di Bekasi.
  • Abraham Nugroho, founder Grebeg Cinta Nusantara, Blackbelt CASASAI Arnis-Eskrima, Brotherhood of Wingchun, Blackbelt Goshinbudo Jujutsu.
  • Shifu Martin Wong, Perguruan Kung Fu Energi Alam Semesta-Kungfu Baji Quan.
  • Anto, Tai Chi Chuan.
  • Shifu Adi Pranata, Kungfu Cakar Macan 8 Penjuru, Kungfu Hokkien Eng Tjun.
  • Galih Iman founder Grebeg Cinta Nusantara, KDG (Ketua Dewan Gorilla) Komunitas Kandang Gorilla.

Acara sesi pertama dibuka dengan perkenalan dari masing-masing perwakilan perguruan atau aliran dan diskusi pemaparan pengalaman mengenai suka duka dalam mengembangkan perguruan ataupun mengembangkan alirannya masing-masing. Pengenalan Grebeg Cinta Nusantara beserta program2nya juga visi kebangsaan-kenusantaraan dilakukan oleh Endah yang dilanjutkan dengan pemaparan pengalaman Abraham Nugroho selama melancong ke Hongkong dan Foshan/RRC. Abraham menceritakan bagaimana kondisi museum beladiri di sana, yang dikelola dengan baik, termasuk bantuan dari pemda setempat. Dibandingkan dengan kondisi musem dan pendataan mengenai beladiri di Indonesia hal ini tentu menimbulkan kekawatiran tersendiri. Dilanjutkan dengan pemaparan mengenai carut marut kondisi penelitian, pendataan , data base silat oleh Reni Murdini.

Pembahasan berikutnya mengambil topic “Prestasi Dalam Beladiri” yang diawali dengan pemaparan setiap perwakilan silat maupun kungfu. Diceritakan bagaimana suka duka penolakan pengajuan ekstrakulikuler silat tradisional dan kungfu tradisional lantaran dianggap tidak menghasilkan prestasi. Meskipun kemudian disepakati kususnya pada silat, bahwa prestasi itu tidak harus melalui sebuah komopetisi dan pertandingan olahraga. Prestasi pencak silat, bisa juga diartikan secara luas misalnya dengan pementasan seni, pengembangan, workshop-seminar, dan lain lain. Pemaparan makin menarik ketika shifu Adi Pranata berbagi pengalamannya menjadi penata laga dalam beberapa iklan dan sinetron, seperti saat bersama Kandang Gorilla menjadi penata laga dan tim laga dalam sebuah pementasan Ludruk. Paparan suka duka menjadi pelatih atlet Jakarta Timur dan aturan dan teknik pertandingan silat resmi dari ala IPSI/PERSILAT oleh Reni Murdini pun menutup sesi di area Pondok Cabe TIM ini.

Acara dilanjutkan ke sesi 2 yang dirancang dalam bentuk  Latihan bersama atau mini workshop Silat-Kungfuyang diiringi dengan diskusi budaya – akulturasi budaya di Selasar Gedung Kaca TIM Jakart. Dibuka dengan doa bersama sebelum latihan oleh Bang Mad Khobbab, sesi ini diawali dengan pemaparan perbedaan antara Silat versi Pertandingan dengan Silat Tradisional berbasis budaya oleh Galih Iman dan Reni Murdini. Reni juga memaparkan mengenai teknik-teknik yang digunakan dalam silat prestasi/pertandingan  dan pengenalan mengenai aturan aturan pertandingan.

Pengenalan materi secara berturut turut dilakukan Kungfu Hokkien Eng Tjun oleh Shifu Adi Pranata, Wingchun oleh Abraham Nugroho, Pencak Terazam oleh Mad Khobbab, Kungfu Baji Quan oleh Shifu Martin Wong, dan  Silat Betawi Langkah Dua Belas oleh Ahmad Ghuffar Rosyidin. Pembahasan mengenai kembangan-ibingan, beserta aplikasi praktis dan kegunaan dari gerakan kembangan-ibingan dilakukan oleh Galih Iman. Peragaan Tai Chi Chuan dan pemaparan mengenai aspek keras dan lembut dalam beladiri dilakukan oleh Anto, dilanjutkan dengan diskusi mengenai akulturasi  budaya oleh Abraham Nugroho, Shifu Martin Wong, Galih Iman dan Shifu Adi. Pemaparan mengenai sejarah perjumpaan budaya Cina-Lokal di Nusantara dan pembahasan tentang peristiwa koalisi Jawa-Cina dalam peristiwa Geger Pacinan, di bawah koalisi pimpinan Sunan Kuning-Kapiten Sepanjang, serta seputar pembantaian Angke di tahun 1700-an, dilakukan ditengah derai hujan di luar.Pemaparan mengenai persamaan dan kesamaan juga akulturasi budaya cina-lokal dalam beladiri oleh Galih Iman, Abraham Nugroho, dan Shifu Adi Pranata yang pemaparan mengenai sejarah, budaya dan kebhinnekaan oleh Endah. Sebagai penutup acara Silat in the Park dilakukan  doa penutup oleh Mad Khobbab dan makan Makan Nasi Uduk Bersama. “Mudah-mudahan dari acara seperti ini bisa membangkitkan kembali kebanggaan akan budaya nusantara, bisa mengharmoniskan hubungan antara budaya dan antar komunitas beladiri, serta menyebarkan virus-virus diskusi-intelektual,” Galih Iman

 

Dilaporkan dan ditulis oleh :Galih Iman (founder Grebeg Cinta Nusantara, KDG -Ketua Dewan Gorilla-Komunitas Kandang Gorilla) dan Endah Priyanti(founder Grebeg Cinta Nusantara, Guru Sejarah di sebuah sekolah di Bekasi)