Berlatih Latihan Gerak menuju Dance Theatre

0

Pada saat saya menuliskan catatan ini , saya sedang menempuh latihan dance theatre untuk Asia Tri 2014, sebuah forum internasional perhelatan seni pertunjukan dengan basis gerak, yang akan diadakan di dusun Karangklethak, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta antara 30 September – 4 Oktober 2014. Apa pentingnya hal itu saya sebutkan dalam awal catatan ini?

hal itu sama pentingya dengan saya menyaqmpaikan cerita bahwa saya pernah melewati penulisan buku Andai Aku Seorang Pesilat #1 ; Spiritualitas Silat dalam hidup sehari-hari (Omahkebon Publishing 2011).

baiklah, saya mulai begini ; sejak awal saya menekuni silat alasan utama saya adalah karena saya aktor teater. Kalau mengikuti syarat europian, beberapa metode mensyaratkan bahwa aktor sebaiknya menempuh latihan raga dengan penguraian bisa beberapa fokus, yakni yang bisa membangun kecepatan, kelenturan, ketepatan, kekuatan. Dan hal itu diisyaratkan dalam beberapa bidang gerak ; tari, silat, dsb. Untuk itulah setelah melampaui pendidikan tari selama kurang lebih empat tahun (1983-1987) sejak tahun 1992 saya mengikuti latihan senam di PGB Bangau Putih. Terakhir, 2009 akhir saya belajar di BIMA (Budaya Indonesia Mataram).

Digerakkan oleh latihan-latihan itu, kemudian saya menuliskan buku yang saya maksud tersebut di atas. sebuah permenungan silat yang secara spirit bisa diaplikasikan dalam hidup sehari-hari, meski seseorang secara fisik tidak menempuh jalan silat. lalu apa kaitan itu semua dengan Asia Tri 2014?

sejak tahun 1985, saya menjadi aktor dan menempuh banyak permainan melalui lakon-lakon verbal ; langsung berurusan dengan kata dan makna. ternyata pada 2014 ini hal itu menjenuhkan saya. Pertanyaan-pertanyaan terpendam semacam ‘bisakah tubuh memiliki antropologinya sendiri dan menemukan bahasanya sendiri’ semakin mendesak. itulah sebabnya kemudian saya melamar untuk bisa tampil dalam Asia Tri 2014, dengan menampilkan bahasa tubuh. Bisakah? pertanyaan itu tentu belum bisa saya jawab, karena saat ini saya sedang menempuh latihan-latihannya. Tetapi dari semua itu, yang membuat saya senang adalah identifikasi ‘dari manakah lahirnya gerak.’

Ada banyak metode yang barangkali bisa dipakai, tetapi saat ini saya sedang tertarik dengan metode Systema Rusia, sebuah beladiri yang dipakai oleh tentara Rusia sejak zaman Joseph Stalin. Konon. Systema Rusia memiliki metode pengenalan diri yang sangat akrab. melatih persendian dengan ramah (pelan), dan mencermatinya sesuai jalan kerja persendian itu sendiri. Hal itu juga disesuaikan dengan napas. Dari situlah kemudian apa yang saya sebut sebagai

‘dari manakah lahirnya gerak’ menjadi terbaca, yakni seseorang memulai dari nol dalam kapasitas masing-masing untuk menuju ke arah segala kemungkinan yang tak terbatas. Dengan demikian, saya bergembira karena saya berharap apa yang akan saya tampilkan nantinya bukan gerak yang mengada-ada, melainkan karena berpijak pada suatu dasar gerak dan metode yakni systema.

Bagaimana metode itu bisa saya kawinkan dengan tema cerita ‘Pandito in Love’ (yang terilmahmi oleh cerita sastrawan jepang Yukio Mihima ; the princess shiga temple and his love) dalam gerak dance theatre? saya sendiri tak tahu. Hal itu harus saya tempuh melalui formula-formula dramaturgis nantinya. Tetapi lebih dari semua itu saya merasa sangat senang. Seperti anak kecil yang berangkat ke sekolah baru yang akan ia tempuh dengan tas carier kecil di punggung dengan menyangking termos di tangan. Ada sesuatu yang sangat dasariah dari rasa senang itu, yakni bahwa saya akan bergerak, mendedah segala kemungkinan, untuk bisa mencari bahasa yang akan dituntung oleh gramatika antara gerak dan formulasi dramaturgi – yang saya harapkan – bisa menyampaikan bahasa. dan yang selalu membuat saya exited adalah ketika tubuh saya bergerak, seluruhy anasir di dalam diri (pikiran, perasaan, tubuh itu sendiri, napas, maksud, intensitas) berdialog satu sama lain dan berusaha menduduki adil. Maaf, mungkin term bahasa saya tidak lumrah dan tidak populis, tetapi seperti itulah yang saya rasakan. Itu semua, senantiasa mengingatkan saya akan kesatuan antara tubuh, perasaan dan pikiran ; bahwa hidup ini adalah kerjasama yang pas antara ke tiganya. Alangkah indahnya sejauh yang saya sangka saya telah menemukan ‘puncak kecil,’ bahwa jika dialog itu berlangsung dengan intens. Dengan demikian dalam melakukan itu, sama sekali saya tidak melakukan perkosaan atas tiga anasir yang saya maksudkan di atas.

Salam!

Whani Darmawan1

Whani Darmawan adalah aktor kelahiran Jogja beberapa tahun silam. Terakhir ia ikut main dalam film “Pendekar Tongkat Emas” Garapan Ifa Isfansyah, produser Mira Lesmana, yang konon baru akan tayang Desember 2014.