Dukungan Penuh Sultan Hamengku Buwono X terhadap Pencak Malioboro Festival III (Yogyakarta, 30 Mei – 1 Juni 2014)

0

Menuju Pencak Malioboro Festival III-2014

Pencak Silat adalah Aktifitas Fisik dan Rohani , menjadi Produk bangsa sendiri , menjadi produk merupakan kearifan lokal . Kita mestinya wajib untuk menjaga dan mengembangkan sehingga kehadiran Pencak Silat untuk bangsanya sendiri di tanah air menjadi sesuatu yang sangat Strategis . Untuk itu selama aktifitas aktifitas warga dari perguruan perguruan yang menamakan komunitas pencak silat di jogja itu , menekankan festival setiap tahun , bagi saya itu adalah ide-ide yang cemerlang didalam upaya tidak hanya mengenalkan tapi tetap menjaga pelestarian dan harapan saya jg utk pengembangan . Sehingga bentuk dukungan saya adalah nanti tahun ke Lima harapan saya ada JAMBORE PENCAK SILAT NUSANTARA DI JOGJAKARTA !Sri Sultan Hamengku Buwono X– 25 maret 2014

 

Sambut Positif Kegiatan Pencak Malioboro Festival (PMF), Sri Sultan Hamengku Buwono X (yang juga menjabat sebagai Gubernur DI Yogyakarta) mengusulkan agar dua tahun kedepan dapat diselenggarakan  Jambore Pencak Silat Nusantara di Yogyakarta.  Kunjungan Panitia PMF III menghadap dan mohon doa restu Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kepatihan hari Selasa (25/3) kemarin,  mendapat respon yang menggembirakan.  

Dalam kesempatan ini, Ngarsa Dalem tidak hanya mengijinkan namanya dipakai untuk memberikan penghargaan bagi penampil terbaik di acara Festival Koreografi Pencak, tetapi juga memberikan dukungan moril agar dalam 2 tahun ke depan panitia PMF membuat acara puncak dengan menggelar Jambore Pencak Silat Nusantara di Yogyakarta.

“Pencak silat itu adalah aktivitas menyangkut fisik dan rohani, dan merupakan produk bangsa Indonesia yang mengandung kearifan lokal. Sudah semestinya kita wajib menjaga dan mengembangkan sehingga kehadiran pencak silat di tanah air menjadi sesuatu yang strategis untuk bangsa Indonesia,” terang Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menerima kehadiran Panitia Pencak Malioboro Festival III di kantornya di Kepatihan hari Selasa (25/3) kemarin. Pada kesempatan itu, Sri Sultan Hamengku Buwono X didampingi Kepala Dinas Kebudayaan DIY, GBPH Yudaningrat dan Pjs Kepala Dinas Pariwisata DIY. Lebih lanjut Sri Sultan HB X juga menilai apa yang telah dilakukan oleh komunitas pencak silat yang tergabung dalam Paseduluran Angkringan Silat (PAS) dan Tangtungan Project, yang telah berhasil menggelar event tahunan yang diberi nama Pencak Malioboro Festival itu sebagai ide yang cemerlang. Utamanya dalam upaya mengenalkan kembali pencak silat ke khalayak ramai, juga dalam hal pelestarian dan pengembangan.

“Sebagai bentuk dukungan saya adalah usulan  dan harapan agar nanti di tahun ke-5 ada Jambore Pencak Silat Nusantara di Yogyakarta,” tandas Sri Sultan. Dalam Jambore tersebut, lanjut Sri Sultan, agar bisa dibentuk forum dialog antar sesepuh pencak silat untuk membicarakan upaya-upaya mengembangkan pencak silat itu sendiri. Dengan adanya kegiatan itu, harapannya selain bisa mempromosi-kan pencak silat secara lebih luas, misalnya masyarakat di luar pesilat bisa belajar silat langsung dari para guru silat.

Kegiatan- kegitana pencak silat yang diselenggarakan PAS dan Tangtungan  Project ini juga bisa mempromosikan pariwisata Yogyakarta. Ribuan pesilat dari berbagai penjuru Indonesia dan luar negeri akan menjadi turis di Yogyakarta, mereka bisa tinggal di hotel-hotel atau di rumah-rumah penduduk. Hal ini tentunya bisa memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Yang menggembirakan bagi Panitia PMF III adalah ketika Sri Sultan mempersilahkan PAS dan Tangtungan Project untuk bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY, karena menurut beliau kegiatan tersebut berkaitan erat kegiatan promosi budaya lokal.

“Kualifikasi silat itu tidak hanya meliputi sport, tetapi juga dengan budaya lokal. Jadi nanti harus bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY. Silahkan berbicara dengan Mas Yuda (Kepala Dinas Kebudayaan DIY). Kita harus back-up kegiatan ini,” ucap Sri Sultan. Menurutnya, Pemda DIY sering kita mau memback-up kegiatan budaya, tapi sering terhambat karena para pelaku budaya kesannya kurang aktif sehingga itu menyulitkan pemerintah yang sudah siap mendukung. Karenanya, kepada Panitia PMF III, Sri Sultan berharap lebih pro aktif mengenalkan kembali pencak silat utamanya kepada anak-anak dan remaja misalnya dengan mengajak anak-anak dan remaja yang menonton kegiatan PMF untuk berlatih silat ditempat itu juga.

“Jangan jadikan anak-anak, remaja, dan masyarakat hanya sebagai penonton, tetapi ajari mereka silat. Bagaimana caranya ada workshop untuk anak-anak dan remaja yang menonton agar disitu mereka bisa berlatih dan mengenal pencak silat. Nanti kalau ada yang tertarik biarkan mereka memilih perguruan yang mereka sukai. Sehingga anak-anak, remaja, dan masyarakat sekitar tidak hanya jadi penonton. Tidak usah bicara yang muluk seperti pembangunan karakter dan lain-lain, tapi bahwa disini ada guru silat siapa yang mau berlatih,” tegas Sri Sultan.

Sementara itu, koordinator PAS, Ludyarto Bimasena (Ludy) mengaku gembira dengan sambutan positif dari Gubernur DIY tersebut. Apa yang telah disampaikan Sri Sultan saat menerima kunjungan panitia PMF III menjadi dukungan moril yang sangat berarti bagi timnya untuk bisa menyelenggaran kegiatan PMF III dengan lebih baik.

“Kami sangat gembira dan berterimakasih kepada Ngarsa Dalem yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual kepada kami. Ini akan menjadi modal berharga bagi kami dalam menjalankan visi misi kami, dan tentunya kami akan berupaya agar Jambore Pencak Silat Nusantara akan terwujud,” ucap Ludy.

Ludy mengatakan pihaknya menjelaskan dihadapan Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Kepala Dinas Kebudayaan DIY GBPH Yudaningrat, bahwa memang sengaja baru menjelang pelaksanaan PMF III pihaknya menjalin kerjasama dengan pemerintah. Sedangkan pada pelaksanaan PMF I 2012 dan PMF II 2013 pihaknya murni melakukan swadaya untuk terlaksananya kegiatan Pencak Malioboro Festival.

“Hal itu kami ingin untuk  action dulu, selain juga bahwa karena pencak silat masih dipandang sebelah mata oleh para sponsor. Jika di PMF I dan II kami ternyata bisa berhasil menyelenggaran festival dg biaya swadaya dengan patungan bersama, maka di PMF III kami mencoba menggandeng sponsor dan beberapa diantaranya ada yang berhasil walau masih banyak yang memalingkan wajah ketika tahu ada label pencak silat. Namun di luar dugaan, setelah menghadap Ngarsa Dalem kami seperti tersadar bahwa kami, para pesilat, juga kurang mendekatkan diri ke pemerintah yang ternyata siap mendukung kegiatan-kegiatan kami,” ucap Ludy.

Pencak Malioboro Festival sudah diselenggarakan tiga tahun berturut turut dengan jumlah peserta yang terus meningkat. Jika pada PMF I  diramaikan oleh lebih dari 2500 peserta, PMF II di dukung oleh 5000 pesilat maka di PMF III  diperkirakan akan dihadiri lebih dari 6000 pesilat yang akan tampil, bersilaturahmi dan berpawai bersama. PMF III  yang sudah dicanangkan sebagai salah satu Agenda Pariwisata Budaya ini,  akan berlangsung selama 3 hari, mulai 30 Mei sampai dengan 1 Juni 2014 dengan mengambil lokasi di Kompleks eks Pasar Ngasem untuk kegiatan festival koreografi, workshop dan pameran, serta lomba foto. Kemudian sepanjang Malioboro untuk pawai serta Titik Nol Kilometer untuk acara puncak pada malam tanggal 1 Juni 2014. Program acara dalam PMF III antara lain Festival Koreografi Pencak, Workshop Pencak Silat untuk masyarakat umum dan wartawan, Lomba Foto untuk umum dan wartawan, pawai, dan malam puncak acara akan diisi demo pencak dari puluhan perguruan pencak silat dari berbagai penjuru Nusantara. Untuk keterangan dan dukungan  lebih lanjut bisa menghubungi panitia PMF III di Jl Pandega Sari no. E – 1 Rt.02, Kenthungan – Jalan Kaliurang Km.5, Yogyakarta-Indonesia

Yogyakarta, 26 Maret 2014